Ranking Dan Pemilihan Oli Mesin

(copas)

Saya coba kumpulkan hasil-hasil test ASTM untuk beberapa merek oli. Nggak semua merek bisa didapat, hanya ada 11 yaitu :
1. AMSOIL ATM
2. Mobil 1 Extended Performance
3. Quaker State Advanced Full Synthetic
4. Pennzoil Platinum
5. Trop Artic Synthetic Blend
6. Motorcraft Synthetic Blend
7. Castrol GTX
8. Chevron Supreme
9. Havoline
10. Formula Shell
11. Pennzoil
Saya nggak masuk detail pengetesan, dan yang saya tuliskan adalah ranking nya saja – dari atas ke bawah mulai dari yang baik ke yang kurang baik.

A. THIN FILM OXYGEN UPTAKE TEST (ASTM D-4742) – Objective : Memperpanjang Umur Oli.
1. AMSOIL ATM
2. Mobil 1 Extended Performance
3. Trop Artic Synthetic Blend
4. Chevron Supreme
5. Havoline
6. Penzoil
7. Formula Shell
8. Motorcraft Synthetic Blend
9. Catrol GTX
10. Penzoil Platinum
11. Quaker State Advanced Full Synthetic

B. High Temperature/High Shear Test (ASTM D-4683) – Objective : Melindungi Engine Yang Panas – Kekentalan Oli Terpelihara.
1. AMSOIL ATM
2. Mobil 1 Extended Performance
3. Castrol GTX
4. Formula Shell
5. Trop Artic Synthetic Blend
6. Chevron Supreme
7. Penzoil
8. Havoline
9. Penzoil Platinum
10. Motorcraft Synthetic Blend
11. Quaker State Advanced Full Synthetic

C. NOACK Volatility Test (ASTM D-5800) – Objective : Memaksimumkan Penghematan BBM, Mengurangi Konsumsi Oli dan Emisi.
1. AMSOIL ATM
2. Penzoil Platinum
3. Castrol GTX
4. Quaker State Advanced Full Synthetic
5. Mobil 1 Extended Performance
6. Motorcraft Synthetic Blend
7. Chevron Supreme
8. Havoline
9. Formula Shell
10. Penzoil
11. Trop Artic Synthetic Blend

D. Pour Point Test (ASTM D-97) – Objective : Memudahkan menghidupkan mesin untuk kondisi musim dingin.
1. AMSOIL ATM
2. Mobil 1 Extended Performance
3. Quaker State Advanced Full Synthetic
4. Penzoil Platinum
5. Castrol GTX
6. Penzoil
7. Chevron Supreme
8. Havoline
9. Trop Artic Synthetic Blend
10. Formula Shell
11. Motorcraft Synthetic Blend

E. Total Base Number Test (ASTM D-2896) – Objective : Menekan Pembentukan Asam Supaya kontaminasi berkurang.
1. AMSOIL ATM
2. Mobil 1 Extended Performance
3. Quaker State Advanced Full Synthetic
4. Trop Artic Synthetic Blend
5. Castrol GTX
6. Penzoil Platinum
7. Motorcraft Synthetic Blend
8. Formula Shell
9. Havoline
10. Chevron Supreme
11. Penzoil

F. Cold Cranking Simulator Test (ASTM D-5293) – Objective : Memudahkan Mesin untuk Dihidupkan.
1. Penzoil Platinum
2. AMSOIL ATM
3. Motorcraft Synthetic Blend
4. Mobil 1 Extended Performance
5. Formula Shell
6. Penzoil
7. Castrol GTX
8. Havoline
9. Chevron Supreme
10. Quaker State Advanced Full Synthetic
11. Trop Artic Synthetic Blend

G. Four-Ball Wear Test (ASTM D-4172) – Objective : Menekan Keausan Komponen Mesin.
1. AMSOIL ATM
2. Mobil 1 Extended Performance
3. Penzoil Platinum
4. Quaker State Advanced Full Synthetic
5. Castrol GTX
6. Trop Artic Synthetic Blend
7. Formula Shell
8. Motorcraft Synthetic Blend
9. Havoline
10. Chevron Supreme
11. Penzoil

Sebenarnya oli dimanapun dijual, apapun kemasannya, apapun marketing gimmik yang dilakukan oleh para penjual, jangan hiraukan. Yang paling penting adalah SPECIFICATION and APPROVAL. As you mentioned above
… API Service SJ/CF, energy conserving. ILSAC GF-2. ACEA A1-96, B1-96 (sesuai dengan ACEA A3-96, B3-96 Performa Mesin) … INILAH YANG PALING PENTING karena standard testing akan semakin ketat dari kurun waktu ke kurun waktu yang lain.

STANDARD API :
Untuk Mesin bensin didahului dengan huruf “S”, bisa dibaca Service category atau Spark-Ignition, kemudian diikuti dengan huruf C, D, E, F, G, H, J, L, M akan menjadi :
SC = diperkenalkan tahun 1967 untuk mobil2 tahun 1967 kebawah
SD = diperkenalkan tahun 1971 untuk mobil2 tahun 1971 kebawah
SE = diperkenalkan tahun 1979 untuk mobil2 tahun 1979 kebawah
SF = diperkenalkan tahun 1983 untuk mobil2 tahun 1983 kebawah
SG = diperkenalkan tahun 1993 untuk mobil2 tahun 1993 kebawah
SH = diperkenalkan tahun 1996 untuk mobil2 tahun 1996 kebawah
SJ = diperkenalkan tahun 1996 untuk dipakai mobil2 yang sekarang ada
SL = diperkenalkan tahun 1998 untuk menggantikan SJ, walaupun SJ masih bisa dipakai
SM = diperkenalkan tahun 2004 untuk menggantikan SJ dan SL, walaupun SJ dan SL masih bisa dipakai.
Untuk mobil-mobil baru mendingan pakai yang SM.

Untuk mesin Diesel diawali dengan code huruf “C”, yang bisa dibaca Commercial category atau Compression-Ignition Engine, kemudian diikuti dengan kode huruf menjadi :
CC = Untuk mobil diesel tahun 1955 kebawah
CD = Untuk mobil diesel tahun 1961 kebawah
CD-II = Untuk mesin 2 Tax (Two Stroke), tahun 1987
CE = Untuk mobil diesel tahun 1987, menggantikan CC dan CD
CF = Diperkenalkan tahun 1994 untuk off-road, indirect-injected dan mobil diesel lainnya. Dapat digunakan menggantikan CD.
CF-2 = Diperkenalkan tahun 1994 untuk kondisi extrim, mesin motor 2 Tax (two Stroke) dan dapat digunakan untuk mengganti CD-II.
CF-4 = Diperkenalkan tahun 1990 N/A atau Turbo Diesel (High Speed), dan dapat digunakan untuk menggantikan CD dan CE.
CG-4 = Diperkenalkan tahun 1995, dapat digunakan untuk menggantikan CD, CE and CF-4.
CH-4 = Diperkenalkan Tahun 1998, ini yang paling mutakhir untuk mesin diesel.
Sekarang bisa dipahami SJ/CF, bisa digunakan untuk mesin bensin dan mesin diesel.

Secara teknis untuk kode SG dan SJ tidak direkomendasikan untuk digunakan, nggak berarti nggak bisa dipakai, bisa saja dipakai. Standard ini hanya mengurangi jumlah Phosphor ketimbang standard yang terdahulu (SA, SB, SC, dsb) yang bertujuan untuk mengurangi emisi yang nggak ramah lingkungan. Tentang dampaknya, jika pergantian oli dilakukan secara teratur untuk jarak tempuh yang nggak begitu tinggi … oke2 aja.
Standard SL, mengurangi jumlah ZDDP dan Phosphor dalam kandungan oli mesin yang ada pada standard SG dan SJ. Sedang Standard SM (yang paling baru – sejak 2004), disamping mengurangkan jumlah kandungan ZDDP dan Phosphor, ada tambahan untuk meningkatkan additive “Anti-Foaming” dan juga menaikkan “Detergent Level”.
Walaupun tidak dipakai dalam mesin, oli mempunyai waktu kadaluwarsa (shelf-life). Untuk Dino Oil masa kadaluwarsanya antara 1 ke 2 tahun, sedangkan fully-synthetic oil masa kadaluwarsanya antara 2 sampai 3 tahun.
Dikhawatirkan oli yang dijual dengan standard SG dan SJ adalah oli stok lama. Ini bukanlah satu kepastian, hanya was-was saja. Ketimbang ada rasa was-was, adalah lebih baik menggunakan standard yang baru (SM).

 

Ada satu ketidak sesuaian antara TESTING dengan REKOMENDASI Penggunaan oli. Testing oli berdasarkan JAM TERBANG yaitu sekitar 200 jam (atau tepatnya 212 jam), yang mana fungsi oli sudah mengalami degradasi. Sedang pemakaian oli direkomendasikan dalam JARAK TEMPUH (5000 km, 10000 km atau bahkan ada yang lebih sampai 20000 km).
Oleh karena kondisi berkendaraan adalah bermacam-macam (Start, jalan pelan, macet si jalan, ngebut, nunggu di traffic Light, nunggu keluar belanja dari mall dsb…dsb), maka dibuatlah satu Standard kondisi “NORMAL DRIVING” yang didasarkan pada “Kecepatan Konstan/Tetap pada kelajuan 45 MPH (70 km/jam)”. Maka dengan kondisi kecepatan konstan 70 km/jam dan lama perjalanan adalah 200 jam, diatas kertas umur oli adalah = 200 jam x 70 km/jam = 14 000 km.
Kondisi riil berkendara tidaklah sama dengan kondisi test laboratorium, atau kondisi yang diasumsi oleh para pembuat mobil. Untuk patokan memperpanjang umur mesin maka pergantian oli dilakukan secara teratur :
1.Dino oil : antara 2000 km s/d 3000 km
2.Synthetic Based Oil (Semi Synthetic) : antara 3000 km s/d 5000 km
3.Fully-Synthetic Oil : antara 5000 km s/d 7000 km

Penggunaan oli lebih dari yang diatas tidaklah dilarang, dan menjadi tanggung jawab diri masing-masing. Rekomendasi pembuat oli akan berlindung dibalik pembuat mobil (sering dikatakan “See your Owner Manual for Engine Oil Change Interval”). Sedang pembuat mobil sendiri juga nggak mau kalau mobilnya bertahan lama sekali, sehingga pada umumnya jika menggunakan DINO OIL (sebutan dari Mineral Oil), pembuat mobil akan menuliskan dalam manualnya pada interval 5000 km (apa dasarnya ? hanya asumsi mereka pada kebanyakan cara berkendara konsumen, diasumsikan rata rata 25 km/jam).

Untuk mobil-mobil generasi terbaru, nggak ada kerisauan tentang pergantian oli, karena ada computer yang akan memberikan peringatan “CHANGE OIL”. Komputer ini bekerja dengan inputan :
1. Jumlah Stop and Go (Start dan Jalan)
2. Lama kelajuan dibawah kecepatan 70 km/jam
3. Lama kelajuan antara 70 s/d 110 km/jam
4. Lama kelajuan diatas 110 km/jam
5. Kemacetan di jalan dan di traffic Light.
6. Dsb … dsb …

Dari semua inputan itu komputer akan menghitung waktu penggunaan oli, sehingga pada 200 jam penggunaan oli, computer akan display “CHANGE OIL” di screen dashboard mobil. Jadi nggak lagi ada rekomendasi dalam berapa km penggunaan oli, karena memang nggak sesuai. Test-nya dalam Jam Terbang, pemakaian dalam Jarak Tempuh.
Coba dipikirkan, dalam kondisi kemacetan di Jakarta, katakan bahwa kecepatan rata-rata yang dapat dilakukan adalah 15 km/jam selama 200 jam pengendaraan (hasil rata-rata dari pemanasan mesin, jalan, macet, nunggu di traffic light, masuk tempat parkir, mobil dimatiin, …. Demikian seterusnya hingga kalau dijumlahkan akan menjadi 200 jam), maka umur oli kalau mengikuti standard test adalah = 15 km/jam x 200 jam = 3000 km – kagak sampai 14,000 km jek !
– Pemanasan mesin (idle) : 0 km/jam
– Kemacetan Traffic Light : 0 km/jam
– Kemacetan lalu lintas : 0 km/jam s/d 20 km/jam
– Nunggu Bapak/Ibu belanja di mall (mesin hidup ber AC) : 0 km/jam
– Dst … dst …

Kalau dipaksakan sampai 10,000 km, dikhawatirklan sudah banyak penumpukan Sludge pada komponen dalam mesin, viskositas sudah mengalami degradasi, oli sudah banyak oksidasi, sudah banyak kotoran (soot), sudah banyak terbentuk asam – oli mesin jadi terkontaminasi, yang tentunya nggak bisa kita lihat dengan mata kasat (visual). Jika ini terus berlangsung, pemakaian BBM akan boros, saluran pelumasan dalam mesin lambat laun akan tersumbat, aliran oli jadi nggak lancar, cepat atau lambat mesin mobil akan rusak. Yang bertepuk tangan adalah Pembuat Mobil, karena model barunya akan segera laku … hehehehehe …
Walaupun pembuat oli merekomendasikan penggunaan oli sampai dengan 10,000 km atau lebih, yang perlu diperhatikan mereka TIDAK MEMBERIKAN JAMINAN. Resiko tanggung sendiri.
Yang paling bagus adalah jika ada timer (macam Lexus RX300 atau Toyota Harrier). Timer hanya sebatas lamanya mesin bunyi sampai mati … bunyi …. mati … itu saja, dan kita sendiri yang mesti ngejumlahin, kalau udah 200 jam, mesti ganti oli … km kagak dilihat lagi.

 

Jika masih dalam jangka waktu garansi, mau nggak mau mesti diikuti, kalau nggak bisa-bisa “Void Warranty”.
Inilah problem yang dihadepin konsumen. Ada beberpa jenis engine/mesin yang sensitive terhadap “sludge”, kebanyakan mesin toyota/lexus (nggak semua sih) sensitive terhadap sludge, diikuti dengan VW, BMW, SAAB.
Kalau oli yang digunakan udah diganti dengan Fully Synthetic, nggak terlalu khawatir sampai 10000 km (mesin baru), tentunya pergantian ke synthetic ini setelah Break-In Period 1000 km makai Dino oil.
Lexus RX300 pun di USA banyak yang kena sludge dalam masa garansi, jadi ada yang digenti ada yang kagak. Jika udah diluar masa garansi (udah habis), dinasehatkan ganti oli lebih sering. Hal yang sama pada oli transmisi otomatis Lexus RX300, dalam manual dikatakan nggak perlu diganti. Masalahnya pada 40000km, oli transmisi (ATF) udah banyak yang terbakar, sehingga perpindahan gear jadi nggak mulus. Ketimbang transmisi otomatisnya jebol, gue ganti ATF tiap 20,000 km (FLushing), Alhamdulillah, sampai sekarang mulus terus, kagak ada trouble dan oli mesin ganti tiap 200 jam. Kadang 2500 km udah ganti, kadang sampai 6000 km – tergantung travel, karena yang jadi patokan gue adalah JAM TERBANG seperti yang ada pada testing, bukannya Jarak Tempuh, lebih aman untuk menghindari sludge.
Kalau segan atau resek ngitung jam terbang, patokan diatas bisa dijadikan guideline.

 

Kita ini masih gelap dengan apa yang mereka claimed : ALMASOL, MONOLEC, QUINPLEX dan PYROSHIELD. Mereka nggak mau “disclose”. Walaupun mereka claimed bahwa produk mereka digunakan oleh NASA untuk pesawat ruang angkasa pada komponen yang bersuhu tinggi, tapi yang jelas kondisi lingkungan ruang angkasa dengan di bumi adalah lain. Kita tahu bahwa di bumi ada kelembaban air (uap air), jika bercampur dengan UHC (Unburn HydroCarbon) dan juga “BLOWBY” akan membentuk asam yang berbahaya pada komponen dalam mesin, termasuk di dalamnya pembentukan sludge.
Sejauh mana efektifitas dari additive yang bernama Almasol, Monolec, Quinplex dan Pyroshield, kita nggak tahu. Hanya tahu dari gaya bahasa marketing mereka.
Sama halnya dulu, BBM bertimbal berbahaya (TEL – Tetra Ethyl Lead), mesti diganti dengan yang Tak Bertimbal (MTBE – Methyl Tertiary Butyl Ether). Setelah 20 tahun baru ketahuan berbahaya, dulu penyokong kuat penggunaan MTBE, sekarang mati-matian melarang penggunaan MTBE.

Bahaya MTBE adalah jika bereaksi dengan ADDITIVE OLI MESIN (dalam ruang bakar tentunya) yang bernama ZDDP (Zinc Phosphate) akan menghasilkan gas beracun yang disebut dengan “NERVE GAS”.
Sebagai indikasi, ALMASOL ini adalah sejenis serbuk atau bubuk atau talk yang memang slippery. Dulu orang menggunakan PTFE (TEFLON), kemudian GRAPHITE, kemudian MOLYBDENUM. Saya pernah pakai oli mesin yang ada kandungannya Molybdenum (merek ENEOS dari Jepang). Sekali saja, karena suara mesin jadi kasar. Ganti yang normal-normal aja, malah lebih halus suaranya.

Kunci utamanya adalah EFISIENSI MESIN dalam arti kata PEMBAKARAN BBM haruslah sempurna untuk mengurangi sekecil mungkin ke-AUS-an pada komponen dalam mesin – terutama Ring Piston Atas dan Dinding Silinder. Jika pembakaran berlangsung tidak sempurna, apapun jenisnya minyak pelumas akan larut dalam BBM yang tidak terbakar (dalam ruang bakar) sehingga menyebabkan ring piston atas dan dinding silinder akan kering, hingga ke-aus-an akan berlangsung lebih cepat. Ini ditandai dengan berkurangnya performance mesin.
Memang ada janji-janji “extended interval change”. Jika tanpa menitik beratkan pada pembakaran sempurna BBM dalam ruang bakar, hasilnya, menurut saya proses kausan bagian atas mesin akan tetap relatif masih cepat (proses ke-aus-an nya seperti apa yang diharapkan oleh para pembuat mobil dan perusahaan minyak).
Secara business, pabrik mobil akan lebih suka kalau mesinnya (relatif) cepat aus dan perusahaan minyak akan lebih suka kalau mobil itu NGGAK IRIT BBM. Yang jadi permasalahan, begitu mesin nggak irit BBM, maka akan cepat aus.
Semakin irit BBM, mesin akan semakin efisien. Semakin efisien mesin maka mesin akan bertahan lama (ke-aus-an nya minimal).

Secara pribadi, saya lebih suka menggunakan DINO OIL dengan jarak pergantian oli relatif pendek (tergantung pada “daily travel distance”) dan menitik beratkan pada bagaimana cara supaya pembakaran dalam ruang bakar jadi sempurna.

Standard pabrikan untuk pertama kalinya isi oli mesin adalah mesti DINO oil, karena hanya dino oli ini yang digunakan untuk break-in. Synthetic nggak bisa digunakan untuk break-in.
Kalau volvo, mereka pakai CASTROL untuk break-in.
Untuk synthetic, cari yang viscosity band-nya nggak terlalu jauh (15W40 atau 20W50 misalnya). Kalau 0W40 terlalu banyak polimernya, polimer ini yang cepat mengalami degradasi, walaupun oli syntheticnya masih ok.

 

Tergantung dari Daily Travel Distance.
Standard pengujiannya adalah 210 Jam … pada kecepatan 70 km/jam … kalau boil jalan terus pada kecepatan 70 km/jam … teorinya bisa nyampe ke 210 jam x 70 km/jam = 14.700 km ~ 15.000 km … itu semua disebut dengan Normal (light) Driving Conditions.
Kalau udah Severe Driving Conditions … seperti Stop and Go … Short Travel Distances … umumnya orang yang tahu gak berani ampe 8.000 km … kecuali kalau dokatnya udah tipis ….. hehehehehehe.

 

Yang perlu dipahami itu :
1. Semi-Synthetic Oil : 15% Synthetic and Additive + 85% Mineral Oil
2. Fully-Synthetic Oil : 85% Synthetic + 15% Mineral Oil and Additive
Profit Margin Penjual Semi-Synthetic sangat besar sekali …. He3 …

Nilai awalnya nggak jadi masalah untuk negara yang iklimnya panas mulu … tapi diusahakan jangan terlalu jauh dari nilai belakang.
1. Untuk yang __W40 … bila tersedia 10W40 atau 15W40 atau 20W40, maka pilih yang 20W40.
2. Sama halnya dengan yang __W50 … jika tersedia 10W50 atau 15W50 atau 20W50 … maka ambil yang 20W50.
Perbedaan antara angka belakang dan angka depan menunjukkan banyaknya jumlah POLIMER (Plastik) yang terdapat di dalam kandungan oli. POLIMER ini yang akan mengalami rusak (breakdown) … semakin banyak jumlah polimer maka semakin cepat kerusakan oli … walaupun molekul oli itu sendiri gak RUSAK … buktinya ada orang yang ngambil OLI BEKAS … kemudian disaring lagi … lantas dijual lagi.

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: