Teknik Pembagian Tenaga untuk Membubarkan Teknik Bacaan n Menghilangkan Rasa

(copas)

Teknik bacaan adalah membaca probabilita gerakan lawan dari posisi badannya jadi kita bisa melakukan antisipasi yang tepat. Sementara rasa adalah teknik mengerti arah energi lawan ketika ia melakukan serangan ataupun dalam keadaan yang terlihat diam.
Teknik bacaan dan rasa gak cuma untuk defensif..tapi juga untuk ofensif.. Efek serangan dengan gerakan dan pembagian tenaga, lawan jadi gak bereaksi karena rasanya hilang dan teknik bacaannya bubar..

Pembagian tenaga bisa dilakukan tapi tetap tidak akan dapat menghilangkan rasa,  istilahnya yang ada adalah “kapalingan Rasa” (rasanya dicuri) yang terjadi akibat belum kenalnya atau masih asingnya rasa yang dimiliki oleh lawan kita. Sehingga kita tidak bisa mendeteksi arah gerak dan tenaga lawan.
semakin tinggi rasa seseorang maka akan semakin mudah untuk memanipulasi rasa lawan, jadi rasa tidak semata mata tergantung pada teknik. Gambarannya reaksi pembalap di jalan yang dia sudah hafal benar tracknya dengan pembalap yang baru pertama kali track balap tersebut. Disini pasti reaksi reflek dan instingnya berbeda. Jalan yang sudah kita hafal disini adalah gambaran rasa yang sudah tinggi (yang timbul karena faktor latihan dan jam terbang), semakin banyak jalan yang dilalui maka akan semakin mahir kita menguasai medan balapan.
Kembali ke pembagian tenaga, atau dikenal dalam permainan maenpo adalah misahkeun tanaga (memisahkan tenaga). Pada prakteknya dilakukan dengan banyak sekali cara, umumnya untuk dapat memanipulasi rasa maka tenaga harus bisa di pisah pisahkan sesuai dengan penggunaannya.
Yang paling sering di gunakan adalah pemisahan tenaga yang melibatkan seluruh anggota tubuh atau hanya sebagian anggota tubuh. Sebagai contoh pemisahan “tanaga leungeun jeung tanaga Awak” (pemisahan tenaga tangan dan tenaga badan). Teknik ini banyak di gunakan oleh ahli Usik (permainan gerak) yang di implementasikan dalam teknik tempelan/antel. Gambarannya kita bisa mematikan rasa lawan dengan memberikan tenaga madi sedangkan bagian tubuh lainnya melakukan tenaga kari.
Sebagai contoh kemampuan pada saat tangan kita membendung tangan lawan namun dengan leluasa kita masih bisa menendang lutut lawan tanpa lawan dapat merasakan gerakan kaki kita karena konsentrasinya pada tangan kita (rasanya terfokus pada tangan kita).
Tehnik pembagian tenaga adalah pelaksanaan gerak dengan penitik beratan beban pada suatu kondisi serangan dan pertahanan(dalam kondisi menempel lebih mudah dipahami)dalam keadaan sadar untuk menipu musuh yang sedang membaca gerakan kita melalui rasa.
Contoh : ketika kita menyerang dengan tangan kanan/pukulan semua tenaga dibebankan di kaki kanan supaya musuh mengira semua kekuatan kita hanya di kanan dan kiri kita kosong, padahal kita memang merencanakan itu…jadi ketika musuh berkelit dan langsung menyerang kaki kiri kita, kita bisa langsung memindahkan sebagian atau seluruh berat dan mengimbangi serta mengalahkan musuh, karena kita memang membiarkan untuk di baca dan dirasakan!
suatu tehnik tingkat tinggi!

Misal badan yang memiliki bobot 120 kg tinggi diatas 2 meter berhadapan dengan orang yang kurus kering, secara kejiwaan begitu kita lihat dia marah maka setidaknya akan sedikit banyak “membuyarkan” konsentrasi terhadapnya baik untuk bertahan maupun untuk menyerang. Atau kita berhadapan dengan orang yang kita kenal sebagai master dari anu dengan pengalaman sekian puluh tahun sementara kita hanya sebulan dua bulan dan bersilat “kuliner”, tentunya rasa yang dimiliki akan banyak mempengaruhi pancaran mata (orang sunda mah bilang sima)
Bagaimana dengan pembagian tenaga?? tenaga hanya akan terjadi dan diketahui saat kita “nempel”. akan sangat sulit mempergunakan pembagian tenaga jika lawannya masih berada diluar jangkauan. Sekalipun menggunakan “pukulan jarak jauh” tetap saja akan terasa bila bersentuhan antara “tenaga” yang dilepaskan dengan tubuh.

 

Digerak rasa dicikalongan, ada teknik gebrakan adalah pancingan, ketika pukulan kita diambil dan dibeset lawan, maka lawan berarti udah masuk nyerang, disitu siap2 aja lawan patah leher,  tangan dan kakinya.karena pukulan berubah jd sikutan, sikutan jd patahan, patahan jd cekekan.
tidak benar serangan itu kudu dengan tenaga all out.
Dalam gerak rasa sanalika atau saka, serangan justru cepat dan halus, kenapa, sebab kalo pukulan biasanya baru berimpact kalo kenceng. tapi, kalo cekekan dan colokan dan cokokan “jeroan” yang penting udah nempel,
Makanya kalo maen ama gerak cikalongan atau ama gerak saka, jangan sampai nempel, kalo udah nempel maka semua teknik dan bacaan serangan lawan bisa teredam karena ga berfungsi.
Ingat kalo serangan masuk alus ga pake tenaga tapi dgn kecepatan dan rasa, itu susah dipatahin, dan jgn coba tangkep tuh serangan, kalo coba nangkep, tinggal nyari dukun patah tulang buat ngurut.
Dan yg namanya pukulan itu kan momentumnya buth ayunan bahu dan dan pinggul, itu sih ngebacanya gampang.
Dulu pernah kejadian yang basicnya kungfu muslim, pas maen sama sesepuh gerak dirawabelong. kagak bs masukin totokan ama pukulan sama sekali, alias buyar.
Pertama pas mo nyerang ditahan bahu kanannya, ga bs apa2, dipaksain pake power dong, iyakan, pas masukin pukulan kanan kemuka, didorong ayun tuh bahu kiri, ya momentum ilang, kelempar jauh ketembok, itu bagus kaga dicolok idungnya.
Nyerang lagi eh dia masuk nempel merunduk, sambil  alus nyubit leher ame jeroan, itu dicubit, sakit, bagaimana di beset.
Sekali waktu pas mukul kenceng, yah enteng, ditangkis aja, pas mo masuk ternyata tangan yg buat nangkis udah ketarik ampe jari-jarinya diengkek, ternyata tuh pukulan kenceng   bs serangan bs pancingan.
Bagusannya,  tuh org juga punya gerak rasa aliran kampung pejuangan kebon jeruk.
jd punya jurus gerak rasa yg unik juga, yaitu: gerak Rasa: kalo di Rasa menang ya lawanin, kalo diRasa bonyok ya kabuuur…..

“Teknik Bacaan n Menghilangkan Rasa ” ini sebenarnya masuk kaidah “ulah numpangkeun rasa” atau ada yang bilang  “ulah bereuhkeun rasana ka lawan “.
Atau intinya kalau mau lakukan sesuatu harus hati-hati atau  jangan kelihatan rasa kita mau menyerang, bertahan atau sebagainya.
Kalau mungkin dari penggabungan diatas yang dimaksud adalah “permainan tenaga”  agar lawan bingung apakah ini keras, kosong atau diantara keduanya..
Maksudnya mungkin “ulah me’re’ rasa ka lawan” bukan “bereuhkeun”. Biasanya dimulai saat membendung tenaga baik mendahului atau bertahan dengan menggunakan kaidah “Madi” (Cikalong) sehingga kehendak atau keinginan kedua dari sebelumnya tidak terjadi. Seseorang yang berniat memukul setelah pasang, akan buyar kosentrasi dan keinginannya untuk memukul atau menyerang karena terbendung tenaganya dan ter”sempit”nya ruang gerak dengan kata lain akan terjadi kebingungan.

Cara menghilangkan rasa lawan ada tiga :
– pertama tutup rasa dan kemauan lawan dengan berbagai teknik silat atau permainan tenaga yang anda miliki.
– jangan terjadi kontak baik sentuhan atau terbaca di panca indera
– kedua dengan teknik paeh / mati
(ayam aja dimatiin gak bisa ngerasain enaknya gabah !! huahuhahahhaha  )

Kalo rasa berbeda, maka implementasi beda juga kan???!!! Kenapa musti sama…..
Tenaga lawan terasa besar kalau kita “undang”. Beberapa bela diri Tatar Pasundan yang mendalami rasa biasanya mempelajari cara “tidak mengundang” tenaga lawan. Kebiasaan kita adalah mau disuruh melakukan sesuatu untuk mengetahui sesuatu.  Jika anda disuruh “mitesin” jari, berarti telah dipersiapkan tenaga untuk melawannya (meski saya tidak mengetahui level tenaganya) dengan kata lain anda memang mengundang tenaganya. Yang jadi pertanyaan seberapa jauh “membaca” anda terhadap kondisi diri dan lingkungan. Jika kita gelap sama sekali maka yang kita lakukan adalah “bergerak tanpa tujuan dan arah jelas” karena tidak didukung oleh kemampuan membaca kita.
Seberapa besarpun orang tenaganya, akan terasa besar jika kita “undang”. Bisakah orang kecil mendorong jatuh “badak”? mungkin saja bisa bila kaidah “tidak mengundang” dipenuhi. (bila mau tunggu sang badak sampai mengantuk berat atau tunggu sampai sang badak “ningkring” dengan satu kaki baru didorong).
“Teknik pembagian tenaga untuk membubarkan (mungkin membuyarkan) teknik bacaan dan menghilangkan rasa” yang dimaksud antara lain (mungkin…) adalah : cara “nutup” pada Cikalong. Meski seperti hal yang sederhana namun beberapa kaidah yang harus dilengkapi dan dapat melakukannya, kaidah tersebut adalah:
1. bisa “rata” dalam membagi tenaga
2. Konsep “Madi” sebagi teknik bendung minimal harus mengerti dan bisa
3. “Robahan” (Konsep Sabandar) juga harus mengerti dan bisa
4. memiliki tujuan atau arah penyelesaian yang telah direncanakan (finishing)
5. Kaidah “kandel tipis”, tebal tipis dalam bersentuhan
6. mengerti jarak jangkauan

Pernah lihat orang lagi sujud gak bisa digulingin kalau didorong dari salah satu sisinya? Pernah liat orang didorong tapi samping kanan atau kiri tapi tubuh dan kakinya gak bergerak, seperti dipantek dibumi.
….tabek..
1. Tenaga dorong yang digunakan antara tangan kiri dan kanan “seimbang”, pengerahan tenaga full alias penuh, otot tangan mengeras sehingga bagian sikut mengunci atau nge-lock, kuda-kuda yang digunakan kuda-kuda jauh.
2. Yang sujud mempersiapkan diri dengan membagi tenaga pada seluruh titik yang menempel sehingga seperti “membumi” atau menempel kuat .
3. Karena demo, ini kerjasama yang apik kedua belah pihak.
Ini bisa gugur dengan mengubah keadaannya :
1. Yang mendorong, mempergunakan tenaga variatif, jika kiri penuh maka kanan setengah atau kosong. Kuda-kuda tidak terlampau jauh sehingga tenaga tidak “habis” karena terlalu jauh jarak kaki. Tidak mengunci bagian siku, tapi melakukan dengan relaks dan menahan siku ke bagian tubuh. Karena yang dipersiapkan adalah menahan dorongan maka kalau cuma ingin membuat jatuh atau terguling lakukan hal sebaliknya terlebih dulu yakni dengan menariknya saat terjadi kehilangan moment menahan barulah lakukan dorongan.
2. Atau pecah konsentrasi dengan dibuat geli ataupun sakit baru lakukan dorongan, misalnya injak dulu bagian ujung jari tangannya baru didorong…insya Allah bisa…
Dalam banyak bela diri sebenarnya ada pembagian tenaga, hanya ada yang memfokuskan ada yang tidak. Ada yang memiliki rumusan dan penamaan ada yang tidak. Jika share atau berbagi hanya dengan sudut pandang silat sunda saja, ada baiknya memberikan kesempatan seluas-luasnya pada yang lain.
Kalau yang dimaksud “sieun ka sim kuring / ka diri, sieun ka lingkungan, sieun ka Gusti” adalah nasehat orang tua dan guru penca sejak jaman dulu, maksudnya adalah membahas rasa takut, dan ini bisa diimplementasikan dalam kaidah silat :
1. Sieun ka sim kuring (lebih tepatnya sieun ka diri) takut ke pada diri sendiri, dimaksudkan setiap perbuatan yang akan dilakukan tentunya membawa akibat bagi diri. Dalam silat jika melakukan sesuatu gerak atau teknik tanpa maksud dan tujuan alias sembarangan maka akan membuat fatal diri sendiri. Maka “membaca” keadaan diri sendiri adalah hal yang mutlak. Penanaman paham rasa takut akan membuat seorang pesilat menjadi jauh lebih berhati-hati dengan tindakan yang akan dilakukan. Dengan mengantisipasi dan dapat mengendalikannya, maka teknik yang keluar adalah hal-hal yang tepat guna.
2. Sieun ka lingkungan, takut pada lingkungan. Adalah pesan untuk selalu berhati-hati terhadap situasi dan kodisi lapangan yang dihadapi. dalam silat, medan pertempuran atau perkelahian adalah salah satu faktor pendukung kemenangan. jika seorang pesilat tidak dapat membaca keadaan sekelilingnya maka dapat dipastikan akan dapat dikalahkan oleh lawan yang memanfaatkan kodisi lingkungan yang ada. Misalkan seorang pesilat yang tak pernah bertanding di pasir dan tidak peduli dengan kondisi ataupun tak dapat memanfaatkan keadaan tentunya akan bisa dikalahkan oleh yang dapat memanfaatkan keadaan sekelilingnya. Mungkin berawal karena hal sepele seperti dilemparkan pasir ke arah mata….
3. Sieun ka Gusti, adalah takut pada Allah. tentu saja sebagai manusia kita wajib takut pada-Nya. Dalam silat, nasehat ini maksudnya bahwa sekalipun seorang pesilat mumpuni dan banyak mengalahkan lawannya, namun jalan kekerasan yang diambil tetaplah akan mendapatkan balasan atas apa yang dilakukannya kelak. Nasehat ini adalah bagian akhir dari pencaharian seorang pesilat dimana pemahaman sebab akibat yang dilakukan tetap memiliki implikasi pada kehidupan baik sekarang maupun nantinya. Intinya adalah nasehat ini “mempersilahkan” pesilat untuk beribadah dan mengerjakan amal kebajikan, bukan menjadikan ilmu yang dimilikinya malah menjadikannya mengurangi nilai ibadah yang telah dikerjakannya…..

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: