Cingkrik Goning

(copas)

1.   Sejarah Cingkrik Goning
Cingkrik memang maenannya Bang Pitung. Jagoan dari daerah marunda. Konon orang tuanya orang bugis yg menetap di Batavia. Ada yg bilang dia robin hoodnya betawi, ada juga yg bilang pitung itu perampok. Mana yg benar aku tak tahu pasti. Yg pasti pitung mati di tembak belanda di daerah…… Catatannya bisa dilihat di perpustakaan Leiden, Belanda.
Menurut pak bambang cingkrik terbagi dua. Satu, cingkrik goning yang mengandalkan tenaga fisik . Dua, cingkrik sinan yang mengandalkan tenaga dalam/ ada unsur mistiknya. Cingkrik goning memang disebarkan oleh orang yang bernama Kong Goning. Waktu itu Kong Goning sering pergi berbulan-bulan ke daerah tanjung priuk untuk belajar cingkrik. Namun entah siapa gurunya, tak ada yg tahu. Setelah itu Kong Goning mewariskan ilmunya ke kong usup putai.
Nah Pak Bambang sendiri belajar sejak tahun 1966. Kala itu ia berumur 11tahun. Waktu itu Ia melihat tukang bambo dari daerah rempoa belajar silat dengan Kong Usup Putai.  Karena setiap hari Pak Bambang datang ke tempat latihan maka oleh Kong Usup Putai  ia di tanya apakah ia mau belajar silat. Pak Bambang menjawab mau. Kemudian oleh Kong Usup Putai Pak Bambang disuruh untuk meminta izin dari orang tuanya.  Setelah itu mulailah Pak Bambang belajar silat dg Kong Usup putai. Sampai akhirnya Pak Bambang menikah dengan putri Kong Usup Putai yang bernama…… . Pak Bambang sendiri telah belajar selama …..tahun sampai Kong Usup Putai meninggal dunia. Tapi sebelum meninggal beliau berpesan kepada Pak Bambang jangan sampai mati obor (punah-red).

2.   Jurus dan Aplikasi
Cingkrik goning terdiri dari 12 jurus dan 80 teknik bantingan.

3.   Pembelajaran
Ada 4 tahapan dalam mempelajari cingkrik goning. Tahap pertama, murid harus menguasai 12 jurus cingkrik goning.  Setelah itu diadakan syukuran/tasyakuran dengan membawa pisau silet,  tape singkong, rokok gentong, rokok gudang garam merah, biskuit 7 rupa dan kembang 7 rupa.  Pisau silet dimaksudkan agar ilmu yg kita pelajari bisa menjadi tajam setajam silet.  Kembang 7 rupa agar ilmu yg kita pelajari dpt membuat nama kita harum seharum 7 bunga tersebut.  Sedangkan tape singkong dan rokok gentong ditujukan untuk mengenang kong goning karena dia sangat menyukainya.  Dan rokok gudang garam merah merupakan kesukaan Kong Usup Putai.
Tahap kedua,  murid mempelajari sambut………….
Tahap ketiga,  murid mempelajari 80 bantingan khas cingkrik goning.
Tahap keempat, murid mempelajari jual beli atau teknik sparring.
Untuk mempelajari cingkrik goning harus dg jumlah yg genap. karena latihan dilakukan dengan berpasangan. Latihan cingkrik goning yg diajarkan Bapak Bambang dibuka dengan membaca surat al-fatihah kemudian dilanjutkan dengan senam pemanasan, latihan gerak jurus, latihan tanduk/teknik 80 bantinagan kemudian diakhiri dengan latihan jual beli (latihan sparring). Kepada muridnya yg beragama islam pak  bambang berpesan agar jangan sampai meninggal kah sholat 5 waktu agar mendapat berkah dari ALLAH swt.

4.   Ciri Khas dan Filosofi
Banyaknya teknik bantingan/kuncian inilah yg merupakan daya tarik tersendiri dari cingkrik goning.  Bahkan teknik kunciannya dapat bersaing dengan teknik aikido, jijutsu atau judo.  Ciri lainnya, semua tekniknya dilakukan dengan satu hitungan. Jadi kecepatan dan ketepatan merupakan unsur yang penting dari silat ini.  Selain itu silat ini lebih bersifat defensif atau menunggu serangan lawan. Begitu lawan mengelurakan serangan seketika kita maju kedepan untuk menangkis dan melumpuhkan serangan lawan, hal ini disebut tubruk. Bisanya  serangan cingkrik goning tertuju kearah leher. Em, membuat teringat dengan silat harimau hijaiyah dari langkat. 
Apa itu cingkrik ?
Apa itu cingkrik ? mungkin ada yang sudah mengetahuinya dan ada juga yang belum. Cingkrik adalah salah satu olah raga beladiri atau disini lebih tepatnya salah satu aliran pencak silat yang ada di Betawi (sekarang DKI Jakarta). Cingkrik diambil dari bahasa Betawi ‘jingkrik’ (bentuk tunggal), ‘jejingkrikan’ (bentuk jamak) dan ’jingkrak-jingkrik’ (bentuk berulang).
Jingkrik yang dalam bahasa Indonesianya artinya meloncat (tunggal; berloncatan, berulang; meloncat-loncat, jamak; berloncatan), Suwarno Ayub1 sendiri (posmetro, 21 maret 2004) menjelaskan “Cingkrik itu artinya meloncat-loncat yang gesit”. Meloncat inilah yang menjadi ciri khas dalam cingkrik itu sendiri. Selain dari gerakan yang luwes, lincah serta cepat dan tepat dalam teknik serang. Pencak silat cingkrik di Jakarta sendiri terbagi atas 2 aliran utama yakni aliran Cingkrik Sinan, aliran Cingkrik Goning2.

Cingkrik Goning
Cingkrik Goning merupakan salah satu cingkrik yang dikembangkan oleh engkong Goning atau ki Goning. Engkong Goning (ki Goning) sendiri memiliki nama asli Ainin Bin Urim (1895-1975), beliau merupakan seorang pejuang Kedoya (bukan kemanggisan). Kata Goning berasal dari Go dan ning, ‘go’ itu sendiri berasal dari panggilan teman sebaya Ainin sewaktu  meledeknya. Sedangkan kata ‘ning’ berasal dari penggalan nama panggilan Ainin (biasa dipanggil ‘nin’) yang mendapat tambahan huruf ‘g’ dibelakang ‘nin’.
Ciri umum dari cingkrik adalah bantingan seperti yang dituturkan Nizam (salah satu murid Cingkrik Goning) “menurut orang tua dulu kalau cingkrik yang asli itu banyak ngebanting / jatuhannya”, demikian pula dengan cingkrik goning jika dihitung-hitung baik dari jurus dan isi jurus ada 80 tehnik bantingan. Ciri khas aliran cingkrik goning adalah cepat, tepat selain penggunaan kaki sebagai pamungkas. Cepat dan tepat disini berarti cepat dalam menyerang / serangan balik dan tepat dalam sasaran / lawan,  “sehingga tidak ada hitungan 1.., 2.., 3.., tetapi 1….brakk lawan sudah jatuh atau dapat dikuasai” ujar Tb. Bambang (Koran Tempo, 7 Oktober 2006). Penggunaan kaki sebagai pamungkas diutarakan Nizam “Tangan digunakan untuk meladeni serangan lawan, begitu lawan jatuh diselesaikan dengan tendangan kaki”.

Sejarah Cingkrik Goning
Setiap sejarah Cingkrik menyebutkan nama si Pitung sebagai pemilik cingkrik, sehingga cingkrik diidentikkan sebagai salah satu ilmu yang dimiliki oleh pitung. Demikian pula dalam sejarah Cingkrik Goning, dimana disebutkan beliau (pitung) sebagai salah pewaris ilmu silat yang berasal dari gurunya. Seorang Haji yang konon berasal dari Menes, daerah Banten yang tinggal di Rawa Belong yang bernama Haji Naipin (Haji Nai’pin)
Sehingga dalam hal ini si pitung diposisikan sebagai pewaris dan penyebar ilmu cingkrik di tanah betawi. Engkong Goning (ki Goning) (1895-1975) sendiri disebutkan sebagai pemilik aliran cingkrik dari dua aliran cingkrik yang ada di betawi. Satunya lagi adalah Cingkrik Sinan yang di miliki oleh Engkong Sinan.
Tidak ada sumber atau nara sumber yang menjelaskan kepada siapa ? atau dimana Engkong Goning (ki Goning) belajar Cingkrik ? Menurut anak-anak ki Goning yang lebih mengetahui lebih jelas adalah putra beliau yang bernama Hasan ‘jago’3 (berprofesi sebagai mandor) akan tetapi ia telah meninggal dunia. Sedangkan menurut Haji Husein (putra beliau yang lain) disebutkan bahwa beliau sering pergi ke daerah Marunda (Cilincing, Tanjung Priok) dan pulang ke Rawa Belong dari marunda setelah 2 atau 3, 4 hari lamanya. Tidak dijelaskan keperluan ki Goning pergi ke daerah marunda, mengingat daerah marunda adalah daerah dimana si Pitung pernah berjaya. Sehingga segala aktifitas yang mencurigakan dapat berakhir di penjara Glodok tanpa perlu alasan jelas. Sehingga tidak jelas apakah ki Goning mendapatkan Cingkrik dari belajar kepada seseorang ataukah menciptakan sendiri setelah melihat perkelahian para jawara atau pendekar silat, mengingat Rawa Belong dulunya merupakan kampungnya para pendekar silat pada masa itu. (posmetro, 21 maret 2003).
Ki Goning sendiri mengajarkan cingkrik ke beberapa tempat diantaranya Daerah Jembatan Dua, Grogol, Pesing, Kebun Jeruk, Kedoya dan Rawa Belong sendiri. Perkembangan selanjutnya ditangani oleh murid-muridnya antar lain Ali (daerah Pesing), Usup Utai (daerah Grogol, Kebun Jeruk dan Rempoa) dan muridnya yang lain. Perkembangan dari ‘muridnya yang lain’ inilah yang konon sampai ke luar negeri4.
Pewaris selanjutnya adalah bapak Usup Utai (1927-1993), seorang murid ki Goning yang tinggal di daerah Grogol, Jakarta Barat. Tongkat pewaris Cingkrik kemudian dilanjutkan oleh salah satu murid dari Usup Utai yakni Tubagus Bambang Sudrajat, yang meneruskan mengajarkan ilmu Cingkrik Goning hingga sekarang.

Jurus-jurus Cingkrik Goning
Seperti yang diketahui Cingkrik Betawi yang ada di Rawa Belong berkembang menjadi 2 aliran:
1.   Aliran Cingkrik Sinan, dimana gerakan tangan dalam cingkrik ini pendek-pendek, di dalam Cingkrik ini juga diajarkan stroom semacam ilmu kontak atau tenaga dalam (jurus Ke-13)5. Seorang sepuh pernah menunjukkan sedikit Cingkrik Sinan ditutup pada posisi dikanan badan (kembali ke posisi sikap dengan mengubah badan ke kiri).
2.   Aliran Cingkrik Goning, dimana gerakan tangan dalam cingkrik ini terentang atau panjang dengan lebih mengutamakan tehnik gerakan yang cepat, tepat dan menutup jurus pada posisi hadap badan ke kiri (kembali ke posisi sikap dengan mengubah badan ke kanan).
Ada 3 tahapan dalam belajar Cingkrik Goning, tahap pertama adalah belajar jurus dimana murid harus dapat menghapal 12 jurus dengan baik dan benar. Tahap kedua yaitu belajar isi jurus  dimaksudkan agar murid dapat memahami isi dari tiap jurus dan hanya bisa menerima serangan serta mematahkan serangan tersebut atau menguasai lawan dan tahap ketiga adalah tehnik ‘jual-beli’ yaitu tehnik memancing serangan lawan / menyerang dan kemudian mematahkan serangan balik dari lawan dan menguasai lawan atau menjatuhkan lawan.
Tipe tahapan belajar lainnya adalah dengan belajar jurus + isi jurus kemudian langsung jual beli. Ada tiga daerah sasaran yang dilakukan yakni atas, tengah dan bawah yang biasa dilakukan oleh cingkrik ini, dengan sekitar 5-12 lebih gerakan silat dalam setiap jurus Cingkrik Goning. Nama gerakan silat yang dipakai dalam Cingkrik Goning adalah : (berdasarkan tangan, kaki, kombinasi keduanya6)
Tangan :
– Singkur          – Gedor         – Kibas   / Tabok
– Tebas / Bacok      – Tepuk Lengan       – Sikut
– Bandut / Bandul      – Totok          – Rambet
– Beset
Kaki :
– Gedik          – Tendang       – Siser
– Sabet kaki      – Palang Tiga
Kombinasi Keduanya4 :
– Ayunan         – Koset      – Cingkrik
– Lok A         – Lok B      – Potong Ayun
– Suliwa / sliwa      – Sapuan      – Sepok / slo
– Gunting         – Turun Tiga   – Putar balik jurus Lima
Banyaknya isi (tujuan atau maksud) gerakan pada tiap jurus berbeda-beda. Mulai dari 2 hingga 19 isi tergantung pada tiap jurus dari ke-12 jurus. Yang diantaranya dimaksudkan menjatuhkan atau membanting, mengunci lawan, membalikkan serangan senjata tajam lawan dan mematah atau menghancurkan anggota tubuh lawan.

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: