Silek Harimau (Minangkabau)

(copas)

Silek atau silat adalah seni beladiri yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, Indonesia yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Masyarakat Minangkabau memiliki tabiat suka merantau semenjak beratus-ratus tahun yang lampau. Untuk merantau tentu saja mereka harus memiliki bekal yang cukup dalam menjaga diri dari hal-hal terburuk selama di perjalanan atau di rantau, misalnya diserang atau dirampok orang. Disamping sebagai bekal untuk merantau, silek penting untuk pertahanan nagari terhadap ancaman dari luar. Wilayah Minangkabau di bagian tengah Sumatera sebagaimana daerah di kawasan Nusantara lainnya adalah daerah yang subur dan produsen rempah-rempah penting sejak abad pertama masehi, oleh sebab itu, tentu saja ancaman-ancaman keamanan bisa saja datang dari pihak pendatang ke kawasan Nusantara ini. Jadi secara fungsinya silat dapat dibedakan menjadi dua yakni sebagai

· panjago diri (pembelaan diri dari serangan musuh), dan

· parik paga dalam nagari (sistim pertahanan negeri).

Untuk dua alasan ini, maka masyarakat Minangkabau pada tempo dahulunya perlu memiliki sistem pertahanan yang baik untuk mempertahankan diri dan negerinya dari ancaman musuh kapan saja.

Silek tidak saja sebagai alat untuk beladiri, tapi juga mengilhami atau menjadi dasar gerakan berbagai tarian dan randai (drama Minangkabau). Kata pencak silat di dalam pengertian para tuo silek (guru besar silat) adalah mancak dan silek. Perbedaan dari kata itu adalah: [1]

· Kata mancak atau dikatakan juga sebagai bungo silek (bunga silat) adalah berupa gerakan-gerakan tarian silat yang dipamerkan di dalam acara-acara adat atau acara-acara seremoni lainnya. Gerakan-gerakan untuk mancak diupayakan seindah dan sebagus mungkin karena untuk pertunjukkan

· Kata silek itu sendiri bukanlah untuk tari-tarian itu lagi, melainkan suatu seni pertempuran yang dipergunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh, sehingga gerakan-gerakan diupayakan sesedikit mungkin, cepat, tepat, dan melumpuhkan lawan.

Para tuo silek juga mengatakan kalau mamancak di galanggang, kalau basilek dimuko musuah (jika melakukan tarian pencak di gelanggang, sedangkan jika bersilat untuk menghadapi musuh). Oleh sebab itu para tuo silek (guru besar) jarang ada yang mau mempertontonkan keahlian mereka di depan umum bagaimana langkah-langkah mereka melumpuhkan musuh. Oleh sebab itu, pada acara festival silat tradisi Minangkabau, maka penonton akan kecewa jika mengharapkan dua guru besar (tuo silek) turun ke gelanggang memperlihatkan bagaimana mereka saling serang dan saling mempertahankan diri dengan gerakan yang mematikan. Kedua tuo silek itu hanya melakukan mancak dan berupaya untuk tidak saling menyakiti lawan main mereka, karena menjatuhkan tuo silek lain di dalam acara akan memiliki dampak kurang bagus bagi tuo silek yang “kalah”. Dalam praktek sehari-hari, jika seorang guru silat ditanya apakah mereka bisa bersilat, mereka biasanya menjawab dengan halus dan mengatakan bahwa mereka hanya bisa mancak (pencak), padahal sebenarnya mereka itu mengajarkan silek (silat). Inilah sifat rendah hati ala masyarakat nusantara, mereka berkata tidak meninggikan diri sendiri, biarlah kenyataan saja yang bicara. Jadi kata pencak dan silat akhirnya susah dibedakan. Saat ini setelah silek Minangkabau itu dipelajari oleh orang asing, mereka memperlihatkan kepada kita bagaimana serangan-serangan mematikan itu mereka lakukan. Keengganan tuo silek ini dapat dipahami karena Indonesia telah dijajah oleh bangsa Belanda selama ratusan tahun, dan memperlihatkan kemampuan bertempur tentu saja tidak akan bisa diterima oleh bangsa penjajah di masa dahulu, jelas ini membahayakan buat posisi mereka.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa silat itu berasal dari kata silek. Kata silek pun ada yang menganggap berasal dari siliek, atau si liat, karena demikian hebatnya berkelit dan licin seperti belut. Laman web ini sengaja dirancang untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang silek di mata masyarakat Minangkabau itu sendiri. Beberapa dari keterangan ini diperoleh langsung dari Tuo Silek (Guru Besar Silat) melalui wawancara. Di tiap Nagari memiliki tempat belajar silat atau dinamakan juga sasaran silek, dipimpin oleh guru yang dinamakan Tuo Silek. Tuo silek ini memiliki tangan kanan yang bertugas membantu beliau mengajari para pemula.

Orang yang mahir bermain silat dinamakan pandeka (pendekar). Gelar Pandeka ini pada zaman dahulunya dilewakan (dikukuhkan) secara adat oleh ninik mamak dari nagari yang bersangkutan. Namun pada zaman penjajahan gelar dibekukan oleh pemerintah Belanda. Setelah lebih dari seratus tahun dibekukan, masyarakat adat Koto Tangah, Kota Padang akhirnya mengukuhkan kembali gelar Pandeka pada tahun 2000-an. Pandeka ini memiliki peranan sebagai parik paga dalam nagari (penjaga keamanan negeri), sehingga mereka dibutuhkan dalam menciptakan negeri yang aman dan tentram. Pada awal tahun ini (7 Januari 2009), Walikota Padang, H.Fauzi Bahar digelari Pandeka Rajo Nan Sati oleh Niniak Mamak (Pemuka Adat) Koto Tangah, Kota Padang. Gelar ini diberikan sebagai penghormatan atas upaya beliau menggiatkan kembali aktivitas silek tradisional di kawasan Kota Padang dan memang beliau adalah pesilat juga di masa mudanya, sehingga gelar itu layak diberikan

Keberadaan silat diminangkabau ini, keberadaannya diperkirakan udah ada sekitar abad 3-4 m , ini bisa kita lihat dari perkembangan agama2 yg masuk kedaerah minangkabau.. pada abad 4- 6 agama budha hinayana…. pd th 670 m – 740m agama islam sunnah yang dibawa oleh khalifah umayah,, berikutnya 750 – 1150m agama budha mahayana..  selanjutnya dari 1150 –  1803 berkembang islam syi’ah dan pada th 1803 faham islam syiah diperbarui dgn islam wahabi yg diprakarsai oleh tiga orang pandeka silek yaitu haji piobang , haji sumaniak dan haji miskin…..
Dari sini dapat kita lihat pengaruh falsafah2 mana yg sangat mempengaruhi pertumbuhan silat tersebut, dan juga dalam falsafah2  tersebut terjadi sinkritisme(penggabungan2) dari faham2 tersebut. mengenai tarekat nahsabandi apakah kemurniannya bisa dipertanggung jawabkan, sebab aliran tarekat ini sangat banyak sekali di sumatra barat ( tapi berbeda2) dalam konteks nya mereka katakan tarekat nahsabandi, tapi ada juga pengaruh tarekat saman didalamnya atau pengaruh dari falsafah2 lainnya..
Memang benar dalam suatu aliran silat (yg menganut suatu falsafah),,, dalam keputusan (akhir) dari pengkajian mereka akan bermain (bergelut) dg inyiak (harimau).. yang sudah pasti bukan harimau (hewan) sebenarnya. jadi hal ini kembali pada diri kita masing2…. apakah akan mempelajarinya sesuai dengan prosedur tradisi yg sudah turun temurun atau cuma mengadopsi gerakan2 nya dan dibuat sebagai bahan dalam latihan olah raga beladiri ini.

Klu Tarekat saman kek nya gak,sebab klu saya pernah melihat orang tarekat saman itu melakukan zikir dengan menggoyangkan badan kekiri kekanan,malah ada yang sampai terbang,
Saya pikir mungkin dekat dengan tarekat naqsabandiyah
Menurut cerita salah satu gurunya(almarhum nyiak datuak mantiko labiah)silat harimau ini dipakai oleh garda terdepan laskar perang diminangkabau
Pada saat seorang pesilat harimau berhadapan dengan lawan dia akan membangun suatu rangkaian serangan yang akan mempengaruhi mental,pernafasan,peredaran darah lawan dan pada akhirnya menyebabkan kematian bagi lawannya,mereka ini mempunyai insting pembunuh
Mungkin karena alasan ini,setiap latihan guru harus memanggil harimau inyiak untuk menjaga jalannya latihan
Pernah dulu di tahun 1983 dari pemda datang ke kec tilatang kamang kab agam mereka bertujuan untuk mencari dan mengembangkan aliran silat ini dan mengikutkannya dalam berbagai kejuaraan pencak silat
Kesulitan terbesarnya adalah pesilat harimau tidak bisa mengikuti aturan untuk tidak melakukan serangan kebagian tertentu dari tubuh lawan.Seluruh serangan yang di bangun itu sudah gerakan reflek yang sulit untuk di hentikan oleh pesilat itu sendiri,kecuali lawan menyerah
kesimpulan nya beladiri ini tidak bisa untuk mengikuti pertandingan yang konvensional,mungkin pertandingan seperti ultimate fighting baru bisa
Klu sodara ingin membayangkan seperti apa kira2 gerakannya saya malah merasa seperti olahraga beladiri jiu jit su yang pernah diperagakan oleh royce gracy di Ultimate fighting yang pernah tayang di TPI
Jurus dasar silat ini ada 4,langkah pertama saat memulai belajar juga 4
Dulu dikampung saya di tilatang kamang agam ada almarhum inyiak datuak mantiko labiah tapi saya gak tau apa ada muridnya yang udah punya keputusan untuk mengajar,dari beliau saya pernah dengar didaerah bonjol ada satu orang gurunya namanya Syeh ibrahim bonjol,mungkin ada sahabat silat yang berasal dari bonjol bisa memberikan referensi
Untuk sahabat silat saya sarankan kalau anda ingin belajar silat harimau (khususnya silat kisamandi)hati2 mencari guru,berbahaya klu belajar pada orang yang blom punya (kaputusan) bagi yang belajar dan bagi yang mengajarkan

Silat minang yang benar asli dari minang itu betul Silat Tuo. Silat ini lah yang dipakai oleh leluhur kita dahulu, Datuk Parapatiah Nan Sabatang dan Datuk Katumangguanggan
Disamping itu juga ada silat lain seperti silat taralak, kumango, sungai patai, silat harimau dsb itu adalah percampuran seni beladiri dari nagari lain, tapi bukan berarti seni beladiri ini bukan beladiri orang minang, aliran silat ini juga aliran yang mumpuni

Sedangkan silat kisamandi adalah pecahan dari silat harimau dari tilatang kamang. Silat Kisamandi ini dibawa “Tuanku Nan Renceh Pahlawan Perang Kamang” dari Cina masa dulunya yang merupakan pecahan dari kung fu yang telah digabung dengan tarekat. Nama tarekatnya adalah Tarekat Nagsabandi.
(Cat Penj. Tuanku Nan Renceh adalah salah satu panglima perang paderi dari kelompok Tuanku Imam Bonjol. Beliau digelari juga sebagai salah satu dari 7 manusia harimau karena keberaniannya. Kemungkinan besar Tuanku Imam Bonjol juga salah satu 7 manusia Harimau minang).
Persyaratan sebelum belajar, murid harus menyediakan beras, pinjaik (perlengkapan jahit?), pisau, kain kafan. Persyaratan ini adalah simbol dari sifat orang yang disabuk/tingkat pendekar dimana Musuh tidak dicari, bertemu pantang dielakkan.
Waktu yang ditentukan belajar silat ini sesudah shalat Isya, kira kira jam sepuluh malam. Sebelum belajar, guru biasanya menyediakan nasi kunyit(?) untuk memanggil kakek(?) harimau. Murid-murid yang sedang belajar biasanya bisa menampak bayangan ‘kakek’ (inyiak) ini berputar mengelilingi arena tempat belajar silat. Tujuannya inyiak dipanggil untuk menjaga keselamatan guru beserta murid-murid.
Pada saat akan memulai latihan selalu ada pemanasan, jadi salah kalau dibilang tidak ada pemanasan. Tapi pemanasan dalam silat saya ini disebut sebagai “membuka langkah”
Ada beberapa pembagian dalam silat ini:
1.   pencak silat yaitu beladiri yang lebih mengedepankan seni pementasan
2.   Silek/silat yaitu beladiri yang dilakukan berdiri (stand up fighting)
3.   Gulat yaitu beladiri yang lebih banyak bermain bawah (ground fighting)
Dan yang dipelajari dalam silat ini bukan hanya beladiri fisik (garik) tapi juga balajar tentang garak (insting, firasat) jadi kesimpulannya yang dipelajari adalah garak dan garik.
Seorang murid dikatakan telah sempurna belajar silat kalo telah dapat “keputusan” baru dia bisa untuk menjadi seorang guru. Pada saat akan mengambil keputusan inilah seorang murid harus sparing dan mengalahkan kakek harimau ini. Sayangnya saya belajar tidak sampai dapat keputusan, karena keburu pergi merantau.
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh guru untuk mengajar silat, dia harus menghadirkan inyiak (kakek harimau). Sedangkan kakek harimau ini hanya bisa dipanggil dari negeri yang tidak berbatas laut dan nagari minang
Jadi kalo ada saudara yang mau belajar silat di Jawa dan di kalimantan itu mustahil atau tidak mungkin.
Pada zaman dahulu silat ini dipasangkan dengan ilmu kedigjayaan yang lain, seperti:
1.   Silayang, ilmu meringankan tubuh
2.   Piganta, ilmu menjatuhkan mental seseorang
3.   Pidareh, ilmu pukulan beracun
dengan masuknya islam ke ranah minang, ilmu ini telah dihilangkan dari silat minang. Sebab ritualnya bertentangan dengan ajaran agama.

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: