Kronologis Cingkrik Rawa Belong

(copas)

Kronologis 1 :
Pd abad 15 diwilayah Banten berdiri sebuah kerajaan Islam yg dipimpin oleh Syekh Maulana Yusuf sebagai raja, beliau mempunyai putra yg bernama raden Sanca Manggala, syekh Maulana Yusuf memerintahkan Raden Sanca Manggala utk pergi mengembara utk melakukan siar agama yg didampingi oleh Syekh Hasan Ali sbg penasehat spiritual, dlm perjalanan pengembaraan di daerah Menes di Gn Kencana wil. Banten Selatan Raden Sanca Manggala sering diganggu oleh kehadiran monyet, dam kehadiran dan kepergian monyet tsb sulit diketahui dan krn monyet tsb selalu menggangu maka Raden sanca Manggala berusaha utk mengusir ataupun menangkap monyet tsb, usahanya pun berlangsung selama 3 hari dan baru pd hari ke-4 beliau mampu menangkap monyet tsb,selanjutnya monyet tsb di ikat di pohon dan di sabet dgn ranting kayu, dipukul dan di tendang, ketika beliau memukul monyet tsb maka monyet tsb mengeluarkan jurus, dan jurus tsb dipelajari oleh Raden Sanca Manggala hinnga hari ke-9 dan pd hari ke-9 monyet tsb hilang secara misterius,ketika monyet tsb hilang maka datanglah seorang berjubah putih yg mengenalkan diri Eyang Raksa yg selanjutnya dikenal sbg Perawat Silat Cingkrik,lalu Eyang Raksa memberi pesan agar jurus silat cingkrik dirawat dan dikembangkan  bersamaan dgn siar agama Islam,pengembaraan pun berlanjut ke selatan smp Sukabumi & cianjur, ke timur smp ke bekasi, ke utara smp ke Betawi dan ke barat daerah banten…
Setelah kejadian tsb ada kejadian yg hampir serupa terjadi pada diri seorang perempuan yg teraniaya oleh suaminya yg seorang pendekar..pd waktu perempuan tsb mencari kayu bakar di hutan,perempuan tsb didatangi oleh 2 ekor monyet yg sedang bertarung,monyet tsb memperagakan jurus2nya krn pertarungan tsb dangat menarik perhatian perempuan tsb, tdk terasa ternyata hari sudah maghrib,krn merasa blm menyiapkan makan dan minum utk suaminya maka perempuan tsb tergesa gesa utk pulang dengan perasaan takut akan dianiaya oleh suaminya, ketika sampai dirumah ternyata suaminya sdh menunggu dengan rasa marah, lalu perempuan tsb dianiaya oleh suaminya, ketika dalam keadaan kritis perempuan tsb teringat oleh jurus2 monyet tsb,lalu jurus2 tsb di gunakan utk mengatasi serangan suaminya dan pertarunganpun berakhir dengan keberhasilan perempuan tsb..yg pada akhirnya sang suami pun belajar jurus2 tersebut dengan sang istri, dengan syarat sang suami harus merubah sifat dn sikapnya…
Selanjutnya pada Abad 18, H.Naipin dan salah satu muridnya yg bernama Pitung mengembangkan dan menggunakan silat cingkrik utk melawan penjajah Belanda di daerah betawi…
Pada abad 19, K.Sinan, K.Sakam, dan K.Saleh mengembangkan di daerah Rawa Belong, Kebon Jeruk dan th 1942 mengembangkan didaerah kebon Sirih, Jakarta…
Pada th 1960 K.Sakam pulang kampung ke daerah serengseng, Pondok Cina, depok dan mengembangkan didaerah tsb..
Pada th 1960 H. Napsin yg seorang polisi ditugaskan didaerah kebon jeruk, lalu diperintahkan oleh K. Sakam utk menemui H. Sinan di Rawa belong, Kebon Jeruk utk belajar silat cingkrik…
Pada th 1970 H. Napsin bergabung kembali dgn K. Sakam utk mengembangkan di daerah Depok dan pada th 1975 K.Sakam dan H.Napsin mewariskan silat cingkrik kepada Bang Popon yg merupakan cucu dr K.Sakam…dan Bang Popon mengembangkan silat cingkrik sampai sekarang…

Nama Cingkrik…”Cing” adalah suara dr jurus2 monyet ketika monyet tsb sedang bertarung dan “Krik” adalah suara ketika monyet tsb menggaruk garuk badannya..

Kronologis 2 :
Alkisah tersebutlah seseorang bernama Ki Maing yang sedang menggali ilmu pengetahuan di daerah kulon (daerah banten). Karena merasa kurang puas atas apa yang telah dan yang sedang dipelajarinya, akhirnya dia memutuskan untuk kembali dulu ke rumahnya.

Semacam mengambil cuti kuliah gitu lah.  ….
Di tengah-tengah kegundahannya saat di rumah, secara tak sengaja ia memperhatikan gerak-gerik seekor monyet. Monyet ini tak lain adalah monyet peliharaan dari tetangganya yang bernama Nyi Saereh (nama tetangganya, bukan nama monyetnya :p). Makin lama dia semakin tertarik dengan keunikan gerak-gerik monyet tersebut, sehingga dengan dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang besar Ki Maing mendekati monyet peliharaan tetangganya itu, dan “bermain-main” dengan monyet itu.
Saat bermain-main dengan monyet itu, Ki Maing makin memperhatikan gerak-gerik natural yang menjadi ciri khas dari seekor monyet. Bagaimana ketika dia mencoba menyodok monyet tersebut dengan sebatang tongkat, diperhatikannya bagaimana cara monyet itu menghindari sodokan sekaligus mencoba merebut tongkat Ki Maing, secara simulatan. Ketika suatu saat tongkat itu berhasil direbut oleh sang monyet, diperhatikannya gerak-gerik sang monyet ketika mencoba menghindari tangan Ki Maing yang mencoba merebut kembali tongkat tsb dan disaat yang bersamaan juga melakukan serangan dengan menggunakan tangan atau kaki yang lain.
Menyerang sekaligus Bertahan, Bertahan sekaligus Menyerang, Bertahan adalah Menyerang, Menyerang adalah Pertahanan, lebih kurangnya inilah intisari filosofi gerak-gerik sang monyet yang akhirnya didapat oleh Ki Maing, hingga terciptalah jurus-jurus cingkrik.
Hingga tak lama setelah menemukan jurus-jurus cingkrik ini, Ki Maing memutuskan untuk kembali ke padepokan tempat dia menimba ilmu di kulon. Sesampainya dia di padepokan, dia ajak teman-teman sepadepokannya untuk mencoba/menjajal jurus-jurus baru Ki Maing ini. Hasilnya adalah seluruh teman-teman, adik-adik, bahkan hingga kakak-kakak sepadepokannya jatuh bangun oleh jurus-jurus Ki Maing ini. Bahkan sampai pada akhirnya, sang guru besar padepokan pun menjadi penasaran dan ingin ikut mencoba dan menjajal Ki Maing. Hasilnya, lagi-lagi sungguh diluar dugaan, sang guru pun jatuh bangun oleh jurus-jurus Ki Maing. Sehingga menjadi gemparlah seluruh isi padepokan ini karena ternyata tak ada satu orangpun di padepokan ini yang mampu membuat jatuh atau mengalahkan Ki Maing dan jurus-jurus barunya ini.

Beberapa informasi tambahan mengenai masing-masing ciri khas cingkrik warisan dari beberapa tokoh legenda…. :
* Konon, Ki Saari ini menderita kelumpuhan yang menyebabkan beliau harus duduk atau tidak bisa berdiri. Sehingga, hal ini secara tidak langsung berperan dalam memberikan ciri khas pada cingkrik warisan Ki Saari yang umumnya bermain atas (serangan yg mengarah pinggang ke atas). (cmiiw)
* Konon, Bang Wahab ini punya “isian” di dalam kedua tangannya, yang menyebabkan tangan menjadi lebih kuat dan “tajam”. Sehingga mungkin hal inilah yang secara tidak langsung berpengaruh pada gerakan-gerakan cingkrik Bang Wahab, yang konon jika orang lain melihat gerakan-gerakan jurus cingkrik beliau maka kesan yang timbul adalah kesan gerakan totokan dan/atau sodokan. (cmiiw)
* Kenapa bisa terjadi jurus-jurus cingkrik seseroang berbeda dengan yang lain. Konon hal ini disebabkan, salah satunya adalah karena para pecinta/penghayat cingkrik yang datang untuk belajar cingkrik, sebenarnya telah punya atau mendalami atau bahkan menjadi tokoh gerak silat lainnya (misal: beksi, sabeni, kelabang nyebrang, dll). Sehingga sangat mungkin terjadi, pada saat mewariskan cingkrik-nya ke generasi penerusnya, disadari dan/atau tanpa disadari telah terjadi perpaduan. Hal ini dapat saja tercermin di dasar jurus yang mengalami perubahan/perkembangan dan/atau dalam sambut-nya (fight practice). (cmiiw).
* Kalau dari cingkrik warisan Bang Uming…. Konon Bang Uming juga melakukan perubahan atau modifikasi, hal ini dapat dilihat dari ciri khas dasar jurusnya yang selalu berputar (seperti orang dikeroyok), start jurus dari titik A maka finis di kisaran titik A (tdk berlaku utk jurus 1 dan 2), hal ini yang menimbulkan julukan 4 penjuru. Dan dalam dasar jurus-nya pun selalu kombinasi serangan atas dan bawah. (cmiiw)

* Bang Hasan Kumis adalah murid dari Bang Uming yang menjadi “legenda”. Pertama karena beliau adalah dianggap sebagai “murid berprestasi”. Beliau juga mengajar cingkrik hingga keluar daerah bahkan jauh dari rawa belong, bahkan sempat mengajar artis2x laga (konon termasuk Pak Diky Zulkarnaen). Beliau juga membuka perguruan cingkrik “Tumbal Pitung”, dimana pada masa itu cingkrik biasanya di ajarkan dalam bentuk “privat” dan tidak dalam pakem “organisasi”. Konon beliau juga yang memodifikasi sambut, sehingga kemudian muncul “sambut 7 muke”. Sambut 7 muka adalah sambut yang masih dipetakan atau istilah sehari-hari adalah masih “di-eja”, terdiri dari 7 set. Dugaan penulis adalah, mungkin, dulu-nya dari dasar jurus langsung ke sambut gulung atau mungkin sambut abis (sambut dengan gerakan cepat atau sangat cepat seolah-olah real fight). (cmiiw)
* Diantara pewaris-pewaris cingkrik Bang Uming juga sebenarnya bisa terjadi perbedaan di gerak jurus-jurus-nya, namun inti dari 4 penjuru dan atas-bawah-nya biasa masih dapat terlihat. (cmiiw)
* Untuk cingkrik warisan Ki Goning, aku masih belum dapat informasi-nya yang lengkap. Kalau yang sejauh penglihatanku adalah: posisi pasang pukul (kuda2x awalnya) sedikit berbeda dengan pasang pukul yg di ajarkan kpd ku. Pernah dikasih lihat jurus 1 cingkrik Ki Goning, gerakannya lebih panjang dari jurus 1 yg ku dapet, dan jurus 1 ku jauh lebih sederhana gerakannya relatif jika dibandingkan dengan jurus 1 cingkrik Ki Goning. (cmiiw)

sebagaimana jika menurut guru dari guru-ku, Ki Goning adalah murid dari Ki Ali. Di antara sekian banyak murid Ki Ali, ada 3 nama yang terkenal yakni Ki Goning, Ki Sinan, dan Ki Legod. Dari ketiganya, konon, Ki Legod tidak begitu menonjol, sehingga hanya Ki Goning dan Ki Sinan lebih dikenal yang mengembangakan Cingkrik warisan Ki Ali.

Hikayat Keluarga Besar Bang Balong

Mengapa kampung yang kini terpecah ke dalam beberapa kelurahan di wilayah Jakarta Barat dan Selatan itu disebut Rawa Belong?
Pada hal saat ini dalam administrasi di pemerintahan tidak tercatat adanya Kelurahan Rawa Belong. yang ada hanya Kelurahan Sukabumi Ilir, Sukabumi Utara Grogol Utara dan kelurahan lainnya.
Seperti yang dikisahkan Komarudin, tokoh masyarakat betawi yang juga Ketua Umum PERWABI, di daerah ini dulunya terdapat sebuah rawa, mungkin saat ini terletak dekat pertigaan Rawa Belong yang menghubungkan jalan Kebayoran lama, jalan Palmerah dan jalan Rawa Belong.
Di pinggir rawa itu hidup sebuah keluarga yang sangat dermawan terhadap yang lemah. Namanya keluarga Bang Balong. Bang Balong memiliki tanah yang sangat luas dan ternak yang banyak.
Daerah ini, dulunya memang merupakan daerah subur perkebunan, pesawahan yang berawa-rawa dan juga masih terdapat hutan. Mata pencaharian penduduk rata-rata berkebun, menanam padi dan berternak. Kemakmuran tanah Rawa Belong mulai menyusut ketika Belanda terus mencengkram meraka. Mereka pun kemudian hidup dibawah garis kemiskinan. Bang Balong sedikit dari pengecualian nasib warga betawi saat itu. Namun menurut Suwarno Ayub, meski sangat demawan terhadap sesama, ada kelemahan Bang Balong yang kemudian menjadi beban hidupnya. Ia gagal mengurusi urusan domestik dalam hal keluarga. Bang Balong ternyata doyan kawin, memiliki istri banyak dan tentu saja anak-anaknya juga sangat banyak. Meski tidak ada yang tahu alasan kuat apa yang membuat (Bang) Balong suka menikah. Apakah karena sunah atau memang memiliki syahwat yang tinggi. Tidak ada yang tahu.
Keluarga (Bang) Balong yang banyak itu pada awalnya memang hidup rukun-rukun saja. Tak ada percekcokan  diantara meraka. Dalam banyak kesempatan mereka berkumpul di rumah (Bang) Balong yang besar. Saling canda dan memahami satu sama lainnya, baik natara sesama istri (Bang) Balong maupun anak-anaknya.
Namun suatu ketika, setelah anak-anak itu dewasa, mereka mulai menuntut hak warisan. Kondisi itu diperpanas oleh istri-istri (Bang) Balong yang mempengaruhi anak mereka masing-masing agar kebagian lebih dari harta warisan itu. Maka konflik keluarga pun akhirnya tidak dapat dihindari. Makin hari suasana keluarga Bang Balong tambah kacau. Tentu saja hal ini sangat membebani pikirannya. Akhirnya ia jatuh sakit dan meninggal.
Warga sekitar sangat prihatin dengan penderitaan dan beban hidup yang ditanggung Bang Balong. Padahal mereka tahu lelaki betawi itu sangat demawan terhadap sesama. Selama hidupnya, tak sedikit warga yang mendapat pertolongannya. Apalagi saat itu jaman penjajahan, rakyat pribumi sangat hidup menderita.
Jika berhutang ke tuan tanah atau rentenir Arab dan Cina, mereka dibebani bunga uang yang tinggi. Bang Balonglah yang menolong mereka dengan ikhlas. Ia tidak pernah menarik bunga dari uang yang dipinjamkannya, karena ia tahu bunga uang adalah riba. Dan riba itu diharamkan dalam agama. (SP)

Asal Kata Cingkrik
Darimanakah kata cingkrik berasal? Kata cingkrik muncul dari frase “jingkrak-jingkrik” atau bila dalam bahasa betawi adalah “cingkrak-cingkrik” yang berarti “lincah“. Hal ini merujuk pada tingkah laku dan gerak-gerik natural dari binatang monyet yang memang terkenal akan “kelincahannya”. Kemudian seiring dengan perjalanan waktu frase tersebut terkenal dengan sebutan “Cingkrik” saja.

Keunikan Dari Cingkrik
Jika penulis boleh mengungkapkan sebagian kecil pendapat pribadi, maka paling tidak ada 3 kesimpulan umum dari silat betawi cingkrik ini, yakni:
* Filosofi menyerang adalah bertahan dan bertahan dengan menyerangnya yang tercermin dalam 12 jurus cingkrik. Tangan yang satu bertahan, tangan yang lain simultan atau sekuensial langsung melakukan penyerangan. Kaki yang satu bertahan, kaki yang lain digunakan untuk menyerang.
* Perkembangannya yang unik seiring dengan waktu. Guru saya (penulis) pernah berkata: “Jangankan beda daerah/wilayah, beda gang saja cingkrik yang dipegang/dipelajari bisa berbeda.” Sehingga bisa jadi antara cingkrik daerah A berbeda dengan daerah B, itupun cenderung lebih disebabkan karena variasi kembangan (perkembangan jurus) dan/atau kelebihan atau kekurangan dari individu masing-masing. Misal ada yang jurus 1-nya terlihat bagus sekali, tapi jurus 2-nya biasa sekali, lebih kurangnya seperti itu. Namun biasanya tetap ada beberapa keunikan gerak atau filosofi tersendiri. Misal: Bang Wahab terkenal dengan cingkrik-nya yang selalu main atas dan jika orang lain yang melihat maka gerakannya terlihat cenderung seperti gerakan totokan, Bang Uming terkenal dengan cingkrik atas-bawah dan 4 penjurunya, pun demikian dengan cingkrik Ki Goning dan Ki Sinan yang juga melegenda.
* Biasanya semuanya akan “sepakat” menyebut bahwa cingkrik identik dengan Rawa Belong, terlepas dari dinamika yang terjadi mengenai masalah “keaslian”, hal ini secara pendapat penulis pribadi merujuk pada poin 2 di atas. Hal ini adalah karena memang cingkrik tercipta – tumbuh – berkembang – dan berpusat di Rawa Belong. Jika menurut informasi yang didapat oleh penulis, Ki Maing sendiri adalah orang/warga/penduduk yang tinggal di Rawa Belong.

“Kurikulum 1”

Dalam Cingkrik yang dipelajari adalah:
I. Dasar Jurus:
1. Keset Bacok
2. Keset Gedor
3. Cingkrik
4. Langkah 3
5. Langkah 4
6. Buka 1
7. Saup
8. Macan
9. Tik Tuk
10. Singa
11. Lok Be
12. Longok
“Bonus” ==> Gombang (biasa diatraksikan di panggung, yang merupakan gerak silat gabungan dari jurus 1 s/d jurus 12)
II. Sambut 7 Muka
III. Sambut Gulung
IV.  Sambut Detik / Sambut Abis
“Bonus” ====> Palang Pintu (sambut untuk atraksi)

“Kurikulum 2”

Dalam Cingkrik yang dipelajari adalah:
Cingkrik mempunyai 5 langkah dengan 12 jurus dan jurus penutup yaitu 5 pancer, diantaranya :
1.  Langkah 1 (Cingkrik)
2.  Langkah 2 (Sliwa)
3.  Jalan Saup
4.  Jalan Singa Beset
5.  Jalan Singa Deprok
6.  Langkah 3
7.  Langkah 4
8.  Jalan muka 1
9.  Langkah 5
10. Jalan Longok
11. Jalan Lukbe
12. Jalan Iringan dan jurus penutup 5 pancer

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: