Persatuan Hati (PH) dan perguruan tua di Jogya/Jawa

(copas)

Di bawah rimbun dua pohon jambu air, sekelompok anak-anak berjumlah sekitar 50 an orang, sedang giat berlatih pencak silat, di minggu pagi yang cerah itu. Beralaskan tanah yang sedikit berpasir yang telah dibasahi oleh hujan malam sebelumnya sehingga tidak ada debu yang berterbangan; menjadi tempat ideal untuk ber-pencak
Sejak pukul tujuh pagi puluah anak-anak usia SD hingga SMa tersebut telah berkumpul dan sebagai pemanasan : lari berkeliling kampong beberapa kali, dipimpin oleh senior mereka.
Mereka tergabung dalam perguruan pencak silat yang tua di Jawa: Persatuan Hati. Tepatnya di daerah Bantul. Jika kita dari Jogya, pojok benteng wetan, masih berjarak sekitar 12 kilometer kea rah parang tritis, menuju ke dusun gabusan timbul bantul. Melewati pasar seni gabusan yang ada baliho, maju sedikit bebearpa meter, sebelah kanan ada gang ke arah rumah pendekar Persatuan Hati : Marto Hardjono.
Dulunya di mulut gang ini ada plang perguruan tapi plang tersebut sudah ambruk diterjang gempa besar yang memporak-porandakan jogya. Tapi tidak usah kuatir, tanya saja pada penduduk sekitar, semua mengenal Pak Marto Hardjono (Mbah Marto) yang pendekar pencak itu.
Mungkin tidak ada yang menyangka jika tempat latihan di halaman rumah ini sudah dimulai sejak 1957 dan hingga sekarang tetap hidup dan eksis. Dari ‘padepokan’ beralas tanah inilah telah lahir banyak pesilat-pesilat tangguh yang yang bertarung di berbagai arena kejuaraan mulai dari kejurda hingga kejuaraan internasional, belum lagi para pendekar yang lebih fokus pada beladiri dan spiritual.
Seperti halnya anak-anak yang sedang latihan di halaman rumah Mbah Marto mereka juga mendapat bimbingan langsung dari Mbah Marto yang saart ini (per tahun 2007) berusia 85 tahun. Badannya masih tegap, jalannya tetap mantap dan gerakannya begitu cepat; orang akan menyangka bahwa usia beliau mungkin sekitat 50-an; tapi dalam usia setua itupun, beliau masih mahir dalam memberikan contoh-contoh gerakan pencak-silat yang tergolong sulit untuk dilakukan oleh orang muda sekalipun.
Seorang bapak yang bekerja di pemda DIY berkomentar: “dulu ketika saya berlatih pada Mbah Marto sekitar tahun 70an, dan dengan sekarang ini ya masih begitu, tidak nampak banyak perubahan”. Bapak ini setiap minggu mengantar anaknya yang duduk di bangku smp untuk berlatih silat.
Marto Hardjono memang tokoh PH yang tersisa dan dapat dikatakan, hanya beliaulah yang tersisa. Dalam wawancara dengan beliau (sabtu malam dan minggu pagi, 19-20 me1 2007). Mbah Marto mengisahkan sejarah PH dan juga banyak pengalaman beliau berkaitan dengan kebeladirian.

SEJARAH DAN TOKOH PH

Persatuan Hati didirikan tahun 1921 di Jogyakarta. Pendirian ini erat kaitannya dengan koh sentral PH yaitu mendiang Rm Mangku Pujono (biasa dipanggil Rm Mangku, den mas Pono, dll) . Sebelumnya sudah ada perkumpulan yang dinamakan ‘Be United’ yang artinya kira-kira bersatu (hati) juga.
Romo Mangku Pujono dilahirkan pada tanggal 21 Juni 1909 dan wafat di Jakarta tahun 2003 yang lalu. Usia beliau tergolong sangat lanjut yaitu 94 tahun. Makam beliau ada di daerah Giwangan, Jogyakarta
Yang sangat unik adalah Rm Mangku sendiri tidak pernah berguru pada guru silat secara resmi. Sebagai mana dikonfirmasi oleh anak bungsu beliau, Mas Ispono, saat ditemui oleh penulis (sabtu/19 mei 2007) di kediamannya daerah Sorowajan, Jogyakarta.
Ilmu silat PH diciptakan dari olahan budi Rm Mangku menghadapi situasi sosial dan tantangannya. Diceritakan oleh Mas Ispono, bahwa sewaktu kecil Rm Mangku sering diganggu oleh anak-anak lainnya di daerah kauman, mantri jeron, brontokusuman, maupun tamansari…dari situ beliau memikirkan cara yang efektif untuk membela diri.
Tidak jarang untuk melatih tekhniknya maka dia mengajak/meminta ato menantang para penjual bakso/tukang kayu bakar dan penjual lainnya di sekitar namburan/mantri jeron dan sekitarnya untuk memukul beliau. Sering juga beliau pulang dengan tangan terkilir, atau kaki sengklek; Namun dari situlah, secara bertahap tehnik pembelaan diri –yang kelak dikenal sebagai persatuan hati—dibentuk dan dirintis.
Tehnik pembelaan diri ini terus diasah dan digesekkan dengan para tokoh lainnya. Tokoh yang sering disebut-sebut adalah : Rm Nardi (tokoh aliran tunggal hati), Rm Widji Hartani (Phasadja) dan Sugiman, juga Purwo Sumarto. Sangat mungkin dalam perjalanannya terjadi proses saling belajar dan memperkaya dengan para sesepuh dan tokoh-tokoh pencak lainnya.
Namun satu hal yang dapat dipastikan bahwa PH merupakan buah dari kegenial-an dan olah budi dari Rm Mangku.
Rm Mangku sendiri bersama dengan Ir Sudarto (murid beliau) pernah melatih tentara jaman Sukarno. Juga pernah melatih para bangsawan di kelaurga kerajaan jogya.
Persatuan Hati bermakna bersatunya hati insan dengan Khaliknya (Sang Pencipta) sesuai agama masing-masing dan bersatunya hati sesama manusia (termasuk sesama anggota PH) dalam persaudaraan yang sejati (sehati)..
Dalam perjalanannya PH terus berkembang dan memiliki banak tempat latihan di Jogya maupun luar Jogya. Untuk di Jogya, Bantul sebenarnya bukan pusat PH sejak awal , namun tempat latihan yang hingga saat ini masih aktif dan terus hidup dengan mendapat bimbingan dari Mbah Marto dan Pak Sugiman (guru Mbah Marto sebelum belajar pada Rm Mangku). Pak Sugiman sendiri adalah murid Rm Mangku.
Menurut Mbah Marto, PH masih memiliki tempat latihan di Jogya, sekitar Imogiri dan daerah lain yaitu ponorogo, purworejo, bangka dan semarang. Hanya saja beliau tidak ingat alamat tempat-latihan tersebut.
Semasa muda Mbah Marto sering diminta oleh prsiden RI untuk menampilkan pencak silat di hadapan para tamu dari luar negeri. Pada kesempatan itu biasanya beliau memainkan jurus tangan kosong dan senjata (cabang, trisula dan golok).

TANPA JURUS
Dalam PH tidak ada jurus yang diajarkan hanya gerak dasar. Sejak dasar sekali, murid PH sudah dilatih tentang gerak langkah dan tehnik hindaran. Kedua hal ini menurut Mbah Marto adalah kekuatan dan sekaligus kekhasan dari beladiri PH.
Murid-murid tahap awal akan diajar gerak dasar dan langkah-langkah dasar, semakin tinggi semakin banyak prakterk hindaran dan balasan/serangan, dst…
Pada tingakt langjut akan dilatihkan tarungan tanpa aba-aba dan juga diajar permainan senjata baik cabang (tongkat), golok maupun trisula..
Karakter silat Rm Mangku, menurut Mbah Marto, adalah pendekar yang senang bermain dengan pancer dan langsung kepruk yang bisa bikin KO lawan. Sikutnya tajam dan berbahaya siap menyambut kaki lawan. Keahlian lain Rm Mangku, adalah menangkap atao memukul jari kaki lawan, walaupun lawan melancarkan tendangan yang sangat cepat. Selain itu Rm Mangku sangat banyak tehnik grip atao tangkapan dan kuncian.
Tapi yang paling menarik lagi dari ph adalah gasangan dan pasangan.

gasangan itu seperti umpan,kalo diambil umpannya kena tapi ikannya ketangkep. Prakteknya ada bagian tubuh yg memang diumpankan / kena/bersentuhan (e.g: bagian atas bahu), jika diambil justru menjadi kuncian dan … finishing is a appropriate measure to ending the fight.
kalo pasangan adl jebakan: jika masuk, umpannya ilang yg ada ikannya ga bisa keluar. bukan seperti tarung berpasangan. masalah terminologi wae kok.

DI PH ndak ada jurus, yang ada hindaran… kalo ndak salah ada 64. Pemahaman langkah adalah pengetahuan dasar yang sudah diberikan pada siswa new entry. Khasnya memang spt yg disebut, permainan sikut atau biasa dipakai dalam permainan jarak dekat (setengah langkah).

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: