Sebuah Essay tentang Kung Fu – 7

(Copas)

Fajin


CMA selalu bicara mengenai FAJIN. Apapun juga latihan kita, selalu has something to do dengan FAJIN. Apapun juga style dan strategi bertarung kita, selalu ujung-ujungnya adalah berupa fajin untuk menghancurkan musuh. Bahkan yang namanya “investing in loss” juga mengenai fajin, baik nantinya digunakan untuk mengefektifkan fajin, maupun untuk “menetralisir” fajin. MA lain-pun berbicara mengenai fajin dengan menggunakan term yang lain, mungkin dalam bahasa Indonesia bisa disebut secara umum sebagai “pelepasan tenaga”.

Banyak sekali artikel ditulis mengenai bagaimana berlatih untuk melakukan fajin secara maksimum dan optimum… yaitu mengenai “sumber” fajin, atau tubuh kita sendiri, dan pada dasarnya itu adalah hakikat dari seluruh teknik dan jurus. Tetapi justru sedikit sekali artikel yang ditulis mengenai “hasil akhir / produk akhir dari fajin itu sendiri” dan bagaimana proses terbentuknya hasil akhir tersebut. Padahal tanpa memahami seperti apa sih proses sampai dengan terjadinya hasil akhir dari fajin, bagaimana kita bisa menyelami segala macam teknik yang diajarkan kepada kita. Inilah tujuan utama dari artikel ini yaitu supaya kita bisa memahami fajin secara lebih lengkap dan pada akhirnya secara lebih menyeluruh (sumber, proses, dan hasil akhirnya).

Pemahaman yang menyeluruh mengenai fajin sangatlah penting karena akan membantu menyempurnakan eksekusi teknik-teknik dan jurus-jurus kita. Karena bahkan dengan guru yang terbaikpun, pada akhirnya hanya kita sendiri yang paling mengerti mengenai karakteristik badan kita. Hanya jika kita mengerti mengenai konsep fajin secara menyeluruh dengan baik, baru kita bisa menemukan “flavor” terbaik dari sebuah teknik dan jurus, yang paling sesuai dengan kita. No body else can help you better than yourself.

Lets start and hope you can enjoy it!

Apakah itu “fajin”?

Dengan pendekatan ala timur yang menyeluruh (holistic), konsep fajin cenderung berarti keseluruhan hal. We understand things directly from the WHOLE experience sehingga bisa mendapatkan hasil yang bermanfaat dalam waktu yang relatif lebih singkat. Kelemahannya adalah secara keseluruhan menjadi begitu kompleks sehingga bersifat ambiguity dan hampir tidak mungkin untuk dijabarkan secara terang-benderang. Dengan pendekatan ala barat, proses terbentuknya hasil akhir fajin dipecah-pecah ke dalam unsur-unsur dan hukum-hukum alam yang saling bebas. Keuntungannya adalah karena dipecah-pecah menjadi hal-hal yang kecil, memudahkan kita untuk memahami keseluruhan hal kecil tersebut secara tuntas. Kelemahannya adalah membutuhkan waktu ribuan tahun sejak MA pertama kali diciptakan sampai dengan ke jaman Sir Isaac Newton dengan rumusnya yang terkenal F = ma, baru kita bisa mengerti konsep fajin secara menyeluruh. (Jangan khawatir, tidak perlu pusing dengan rumus ini, karena tidak akan digunakan di sini, selain daripada penerapannya saja.) Dengan telah tersedianya pemahaman ini, dan bahkan merupakan pelajaran SMA (atau SMP??), dan menjadi dasar perhitungan untuk menerbangkan roket ke bulan, singkatnya sudah tersedia dan proven, so why not… mari kita gunakan pemahaman tersebut untuk meningkatkan level Gong-Fu kita. Tentu dengan bahasa sehari-hari.

Mari kita mulai dengan memilah-milah “proses terbentuknya hasil akhir fajin” ke dalam konsep-konsep kecil. Saya akan mulai membahas satu dua konsep dulu, diberikan contohnya, baru nanti setelah pemahaman kita semakin berkembang, akan ditambahkan beberapa konsep baru, diberikan contoh kembali, dan demikian dan seterusnya.

Inilah konsep kecil pertama yang disebut “gaya”.

Gaya

Gaya adalah dorongan atau tarikan yang dikenakan terhadap sebuah objek. Jika sebuah objek dikenai gaya maka objek tersebut bergerak. Contoh dari gaya adalah jika kita mendorong sebuah lemari, mengangkat barble, daya tembus kaki kita terhadap tanah (bumi) pada saat kuda-kuda (yang sama dengan berat badan kita), dan lain-lain. Besaran gaya dinyatakan misalnya dalam satuan KG, Ons, dan lain-lain. Contoh sumber dari gaya adalah tenaga yang dikeluarkan oleh tubuh kita (pada saat kita mendorong atau menarik), atau gaya tarik (gravitasi) bumi terhadap objek-objek yang berada di atas bumi ( atau di bawah ). (Kita TIDAK melesak ke dalam pusat bumi karena ditahan oleh tanah atau lantai bangunan bertingkat.)

Gaya tidak berkaitan secara langsung dengan daya rusak. Yang terkait langsung dengan daya rusak adalah kecepatan (lihat penjelasan mengenai kecepatan di bawah ini). Misalnya kita menekan tembok sekuat apapun dengan tangan kita, tangan kita tidak akan sakit. Bandingkan jika kita pukul tembok, baru tangan kita menjadi hancur, walaupun gaya yang dikeluarkan oleh kita jelas sama. Karena pada saat menekan tembok kecepatan tangan kita pada point of contact adalah 0 (nol), dibandingkan kecepatan jika kita memukul tembok.

Kecepatan

Adalah berapa waktu yang dibutuhkan oleh sebuah objek dalam menempuh jarak tertentu. Misalnya kecepatan mobil sebesar 50 KM / Jam maksudnya adalah dalam waktu 1 Jam kita bisa menempuh jarak sejauh 50 KM.

Kecepatan berkaitan langsung dengan daya rusak. Semakin cepat sebuah objek, semakin besar daya rusaknya. Misalnya lihat perbedaan antara menekan tembok dengan tangan dan memukul tembok seperti contoh di atas. Atau contoh lain adalah perbedaan jika kita ditabrak oleh mobil dengan kecepatan 5 KM / Jam dan ditabrak oleh mobil dengan kecepatan 100 KM / Jam. Walaupun objek yang menghantam kita sama (berarti gaya dan daya tembus-nya juga sama), tetapi hasilnya beda jauh (dengan kecepatan 5 KM / Jam, kita masih bisa memaki-maki supirnya, dengan kecepatan 100 KM / Jam – seketika itu juga Anda menjadi Dewa Penunggu Langit).

Akselerasi

Akselerasi adalah perubahan kecepatan. Misalnya pada saat mobil dalam keadaan diam, dimana kecepatannya sama dengan 0 (nol) KM / Jam, kemudian sedikit demi sedikit melaju sampai dengan mencapai kecepatan tertentu misalnya 100 KM / Jam. Dalam hal ini dikatakan mobil mempunyai akselerasi. Contoh besaran akselerasi misalnya adalah 10 KM per Jam / Detik. Artinya dalam satu detik, sebuah mobil (objek) meningkat kecepatannya sebesar 10 KM per Jam.

Semakin besar sebuah gaya, semakin besar akselerasi yang ditimbulkan. Note : gaya tidak terkait langsung dengan kecepatan, tetapi akselerasi. Misalnya pada saat kita menekan tembok dengan tangan… karena tangan sudah menempel di tembok, tidak ada waktu / jarak yang bisa digunakan untuk mempercepat kecepatan tangan kita, sehingga sekuat apapun kita mengerahkan tenaga kita, tangan tidak akan sakit. Bandingkan jika kita memukul tembok, awalnya ada jarak antara tembok dan dan tangan kita, sehingga ada peluang / jarak / waktu untuk meningkatkan kecepatan tangan pada saat mencapai tembok. Inilah yang dimaksud dengan akselerasi.

Pengetahuan ini sering digunakan juga untuk mendemokan “qi”. Seperti orang bisa diangkat menggunakan tombak yang ditancapkan di perutnya. Karena pada awalnya tidak ada jarak antara perut dengan tombak, maka peluang untuk melakukan akselerasi tidak ada, sehingga tidak terjadi apa-apa (selain daripada sedikit memar-memar). Kalau orang tersebut dijatuhkan dari ketinggian… misalnya satu meter saja, langsung ke ujung tombak, dan jika perutnya tidak tertambus tombak, barulah orang itu adalah orang super sakti.

Sudah cukup pusing? Ok stop dulu konsep-konsepnya kita langsung masuk ke contoh yang menjelaskan konsep-konsep tersebut dalam sebuah pukulan lurus.

Pukulan

Apakah yang terjadi dalam sebuah pukulan? Pukulan bisa dikatakan menggerakkan kepalan tangan kita sekuat-kuatnya sampai jeueedeeer menghantam musuh kita. Yes, yes, pukulan adalah whole body movement, tetapi untuk memahaminya, kita bayangkan dulu seolah-olah kepalan tangan kita adalah sebuah objek terpisah yang “menempel” di pergelangan tangan dan digerakkan oleh seluruh badan kita. Kita telusur kejadiannya dalam “slow motion” sehingga terlihat jelas apa saja yang terjadi.

1. Pertama kepalan tangan (objek) kita dalam keadaan diam.

2. Supaya bergerak, kita mengenakan gaya terhadap kepalan tangan tersebut (gaya yang dihasilkan oleh otot kita).

3. Gaya menimbulkan akselerasi terhadap objek, sehingga tangan mendapat akselerasi. Karena mendapat akselerasi, maka terjadi perubahan kecepatan dari kecepatan 0 (nol, tangan dalam kondisi diam) menjadi mempunyai kecepatan tertentu. Karena mempunyai kecepatan, maka kepalan tangan mulai bergerak ke arah musuh kita.

4. Selama tenaga terus kita keluarkan, selama itu pula gaya terjadi pada kepalan tangan, sehingga selama itu pula terus terjadi akselerasi, sehingga kecepatannya semakin meningkat sampai dengan mencapai kecepatan maksimum pada saat kepalan tangan mendarat di tubuh musuh.

5. Semakin besar gaya kita, semakin besar pula akselerasi yang terjadi, dan semakin jauh jarak kita, semakin lama / panjang pula akselerasi yang terjadi pada kepalan tangan kita. sehingga overall semakin tinggi pula kecepatan tangan kita pada saat mendarat di tubuh musuh. Berapa kecepatan yang dihasilkan pada saat kepalan tangan mendarat di tubuh musuh itulah yang akhirnya menentukan daya rusak terhadap musuh.

Sedikit tentang fajin

Dari sini jelas bahwa kecepatan akhir adalah salah satu komponen yang menentukan dalam menimbulkan daya rusak (ingat contoh mengenai perbedaan antara dihantam oleh mobil dengan kecepatan 5 KM / Jam dibandingkan mobil dengan kecepatan 100 KM / Jam). Seberapapun terlihat eksotis-nya teori mengenai fajin, mau dari teknik jab-jab tinju, whole body movement, sampai dengan yang menggunakan “qi” tingkat tertinggi, whatever, its all about “kecepatan akhir” (FINAL SPEED). Seberapa cepat sebuah objek (tangan / kaki / badan / kepala) pada saat mendarat di tubuh musuh, itulah yang menentukan kesuksesan sebuah fajin.

Menguatkan gaya

Semakin besar gayanya, semakin besar akselerasinya, berarti semakin cepat pula kecepatan tangan kita pada saat mendarat di tubuh musuh. Terus bagaimana caranya meningkatkan gaya? Karena gaya berasal dari tenaga otot, maka semakin kuat otot kita, semakin besar pula gayanya. Jadi hati-hati dengan mitos otot besar berarti pukulannya lambat. Ini hanya betul jika yang besar bukan otot, tetapi lemak yang hanya menambah beban otot tanpa menambah daya kekuatannya. Semakin “kering” badan kita, artinya semakin baik perbandingan antara otot dan lemak tubuh kita, semakin efektif kita mengeluarkan kecepatan.

Kita sudah berbicara mulai dari kepalan tangan kita bergerak sampai dengan menyentuh tubuh musuh. Akan tetapi untuk mengerti apa yang terjadi tepat pada saat objek tersebut bersentuhan dengan objek yang menjadi target, kita perlu mengerti konsep “derajat kekerasan”, “daya tembus”, dan “momentum”. Derajat kekerasan, daya tembus, dan momentum adalah komponen lain, selain kecepatan, yang terkait langsung dengan daya rusak. Mari kita bahas konsep-konsep tersebut satu per-satu. Ingat tujuan dari fajin bukanlah sekedar mementalkan musuh, tetapi bahkan kalau bisa merusak organ dalam, dan bahkan menembus tubuh musuh. Apakah contoh “fajin” yang paling sempurna (mengerikan)? Peluru yang menembus tubuh manusia. Bagaimana ini bisa terjadi? Mari kita lanjut.

Derajat kekerasan

Kita mungkin pernah melihat orang bermain adu kacang kulit. Dua orang masing-masing memegang sebuah kacang kulit kemudian saling ditekankan ke satu sama lain. Yang kalah adalah yang kacang kulitnya hancur. Kacang kulit yang kalah adalah disebabkan “derajat kekerasan”-nya lebih rendah dibandingkan kacang kulit pemenang. Jika kita menggunakan martil yang terbuat dari kertas untuk menghantam musuh, tidak peduli sekuat apa tenaga yang kita kerahkan untuk mengayunkan martil tersebut, tidak akan ada efek mematikan yang terjadi. Bandingkan jika kita menggunakan martil dari besi baja.

Pada saat memukul tangan kita kepalkan sekuat-kuatnya tidak lain adalah untuk meningkatkan derajat kekerasan kepalan tangan kita. Karena itu ada teknik / gaya yang emphasize penggunaan telapak tangan sebagai senjata. Sebenarnya yang digunakan adalah ujung dari pergelangan tangan kita. Yang tentu saja karena terdiri dari dua tulang besar yang konstruksinya saling memperkuat, mempunyai derajat kekerasan yang lebih tinggi dibandingkan sekumpulan tulang-tulang mungil jari-jari tangan kita.

( Disamping tentu saja karena otot pergelangan tangan cenderung lebih rilex sehingga bisa mengalirkan darah lebih banyak sehingga gaya yang dihasilkan oleh tubuh menjadi lebih besar, sehingga mempunyai akselerasi yang lebih besar, sehingga kecepatan akhir yang diterima oleh musuh juga lebih besar. Memang ada perbedaan jarak tempuh yang sedikit lebih jauh (dibandingkan kepalan tangan), tetapi dengan akselerasi dan kecepatan akhir yang lebih besar, perbedaan jarak ini menjadi tidak terlalu berarti. Mungkin inilah fenomena yang diamati oleh pencipta / praktisi Bagua Zhang. )

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: