Sebuah Essay tentang Kung Fu – 2

(Copas)

2. Konsep yin-yang

Hal berikut yang sangat popular, yang selalu dipandang sebagai sesuatu yang ajaib, yang hanya bisa dimengerti oleh para dewa dan guru-guru besar, adalah konsep mengenai yin-yang. YES YES YES pengertian yin-yang sangatlah dalam, dan sangat-sangat bermanfaat dalam latihan beladiri, tetapi sama sekali BUKAN hal yang ajaib. Dan juga coba direnungkan kalau sangat ajaib, sehingga tidak bisa dimengerti, apa gunanya buat kita???

Jadi buang jauh-jauh fantasi Anda, yin-yang sangatlah simple, nyata, dan praktis. Sedemikian simple, tetapi sangat bermanfaat, sehingga banyak orang yang mengerti berusaha merahasiakannya dengan teori-teori di awang-awang supaya Anda tidak mendapat kebenarannya!

Yin-yang merupakan konsep yang berasal dari China ribuan tahun yang lalu. Walaupun sering diasosiasikan dengan salah satu gaya Kung Fu yaitu Taiji, konsep yin-yang bukanlah monopoli Taiji style saja, melainkan merupakan salah satu konsep penting dari seluruh kebudayaan China. Yin-yang merupakan kesadaran bahwa segala hal di alam semesta ini selalu mempunyai sifat yang berlawanan, ada hitam ada putih, ada gelap ada terang, dan sebagainya. Simple kan? Mari lanjut.

Konsep ini disimbolkan dengan gambar berupa berupa lingkaran, biasanya dipisahkan antara dua area hitam dan putih, dimana pembatasnya berupa garis lengkung. Di area hitam biasanya ada titik putih, dan di areah putih ada titik hitam. Ini semua ada maksudnya sebagai berikut:

1. Kenapa lingkaran, bukan kotak?

Karena lingkaran menunjukan continuity (kesinambungan).

2. Kenapa pembatas antara area hitam dan putih bukan garis lurus, melainkan garis melengkung-lengkung?

Karena menunjukkan bahwa walaupun ada sifat yang berlawanan seperti hitam dan putih, gelap dan terang, perubahannya tidak absolut. Maksudnya di antara hitam dan putih, selalu ada warna abu-abu gelap, abu-abu setengah gelap, abu-abu terang dan seterusnya. Di antara gelap dan terang selalu ada gelap mulai terang, remang-remang, agak terang, dan seterusnya. Jadi perhatikan simbol yin-yang, dimana area hitam berkurang, area putih bertambah besar, dan sebaliknya.

3. Kenapa di area hitam ada titik putih, dan di area putih ada titik hitam?

Karena menunjukkan bahwa di dunia ini tidak ada sebuah sifat absolut. Misalnya orang yang jahat, pasti masih mempunyai sedikit sifat baik, dan seorang yang baik, pasti juga mempunyai sisi jahatnya.

Ok, ok, kalau hanya begitu sih gw juga ngerti! Tapi apa hubungannya ini dengan beladiri, atau Kung Fu khususnya??? Simple, ini berkaitan dengan ciri-khas Kung Fu kedua yaitu “movement continuity”. Inilah salah satu ciri-khas paling utama yang membedakan Kung Fu dengan point-fighting, yaitu setelah memukul, kita harus bisa lanjut ke pukulan / gerakan berikutnya TANPA harus mengambil ancang-ancang terlebih dahulu (lihat penjelasan di atas).

Misalnya setelah kita memukul upper-cut ke atas, maka setelah tenaga pukulan ke atas habis, posisi tangan kita berada di atas, dan badan mungkin juga terangkat ke atas… tenaga ke atas memang habis, tetapi ini merupakan TITIK AWAL terbaik untuk mengeksekusi pukulan ke arah bawah misalnya menabok ke muka musuh kita. Contoh lain, setelah memukul lurus ke depan, posisi berat badan ada menumpu di kaki depan yang ditekuk, tenaga pukulan lurus memang sudah habis, tetapi ini merupakan TITIK AWAL yang baik yaitu bertumpu dari kaki depan yang sudah menekuk tersebut, dibantu dengan putaran pinggang dan seterusnya menyabat lawan dengan tangan yang lain. Inilah movement continuity, inilah yang dimaksud dengan konsep yin-yang di Kung Fu.

Jadi selesainya sebuah gerakan, adalah awal dari gerakan lain. Setelah malam habis (tengah malam), dimulailah TITIK AWAL siang sampai dengan siang bolong, dan dimulai lagi TITIK AWAL malam, yaitu sore hari, dan seterusnya. INILAH YIN-YANG. INILAH MOVEMENT CONTINUITY – pukulan sambung menyambung tanpa mengambil ancang-ancang terlebih dahulu – ciri khas Kung Fu yang paling utama. Inilah penerapan yin-yang di Kung Fu. Gamblang, sederhana, dan praktis.

Ooo klo gitu sih simple dong, dimana letak kedalamannya?? Nah untuk bisa mengeksekusi pukulan dan gerakan yang terus menerus seperti itu diperlukan sedikitnya dua pondasi:

1. Untuk mencapai momen maksimum, yaitu waktu mulai mukul, atau setelah memukul, posisi badan kurang lebih berada di bawah, jadi kaki akan selalu hampir konstan dalam posisi ditekuk, artinya perlu kaki yang kuat. Ini masalah besar karena proses evolusi kita dari monyet menjadi manusia ternyata belum betul-betul selesai. TERUTAMA perhatikan otot lutut.

Dibandingkan otot-otot yang lain, otot lutut sangatlah lemah, tidak seimbang dengan beban yang ditopangnya (monyet berjalan dengan empat kaki, sehingga berat badan terdistribusi ke empat kaki, sedangkan manusia berjalan dengan dua kaki, sehingga berat badan terdistribusi hanya ke dua kaki). Sehingga timbul istilah “lutut kita seperti tahu”. Lutut memang paling gampang cedera.

Di sisi lain Kung Fu sangat tergantung dari kekuatan lutut kita. Oleh karena itu latihannya pun harus extra hati-hati, tidak bisa langsung forsir lutut kita, karena begitu sekali cedera, tamatlah karir beladiri / Kung Fu kita. Bagaimana caranya supaya tidak forsir. Tentu jangan langsung digerakkan, melainkan dengan kuda-kuda. Dengan kuda-kuda, salah satunya otot lutut diperkuat, tetapi karena dieksekusi sambil diam, ini me-minimize kemungkinan cedera otot (dibandingkan langsung latihan bergerak, apalagi bergerak super cepat, yang beresiko tinggi untuk cedera).

Disamping keuntungan lain seperti dalam rentang waktu yang sama latihan lebih berat karena otot secara konstan dalam posisi tegang, meditasi, rooting, dan stamping.

Dari sinilah pentingnya latihan kuda-kuda, sedemikian pentingnya sehingga, begitu di-emphasize karena otot lutut merupakan otot yang paling lemah, sehingga popularlah latihan kuda-kuda yang merupakan latihan paling menakutkan / menyengsarakan seluruh praktisi Kung Fu.

2. Melatih otot-otot yang tidak biasa kita gunakan. Dalam kegiatan sehari-hari hanya sebagian otot yang biasa kita gunakan. Supaya bisa melakukan movement continuity kita perlu melatih SEMUA otot-otot tersebut, karena whole body movement yang dilanjutkan movement continuity membutuhkan kita mengeksekusi gerakan-gerakan yang tidak lazim dalam kegiatan-kegiatan sehari.

Bagaimana melatihnya?

Dimulai dengan menyadari / mengetahui otot-otot mana saja yang digunakan. Sebagai petunjuk gampang, otot yang digunakan adalah otot yang tegang pada saat kita mengeksekusi gerakan, dan letak otot-otot ini adalah di arah gerakan kita. Misalnya kita memukul ke depan, otot yang digunakan adalah otot bagian belakang tangan, yaitu tangan dari posisi ditekuk bergerak ke arah lurus – ke arah otot bagian belakang tangan.

Kemudian mulai melakukan gerakan secara perlahan, untuk make sure koordinasi antara seluruh bagian badan terjadi dan momen-nya tepat (seluruh bagian badan berhenti pada saat yang sama pukulan mengenai sasaran). Awalnya kita akan merasakan dorongan dari kaki, merasakan dorongan dari pinggang, dan seterusnya sampai ke tangan. Ini yang harus diulang-ulang terus sampai terjadi koordinasi dan momen yang sempurna.

Kemudian mulai berlatih dengan menambah speed dan power, sehingga otot-otot yang biasanya jarang digunakan, tetapi sangat diperlukan oleh Kung Fu, mulai terlatih.

Di sinilah bedanya dengan body building. Body building cenderung melatih otot-otot yang indah dipandang. Kung Fu memerlukan seluruh otot, oleh karena lebih mementingkan kekuatan otot yang merata. Bayangkan kalau otot tangan Anda kuat luar biasa, tetapi pinggang Anda kurang kuat, apa yang terjadi kalau Anda mengeluarkan tenaga tangan sebesar-besarnya? Pinggang akan kalah dan terkilir karena tidak sanggup menopang beban dari tangan. Dan Kung Fu tidak hanya berhenti di pinggang, tapi semua otot all the way ke paha, lutut, engkel kaki, dan seterusnya sampai ke bagian tubuh yang menyentuh tanah (oh ya, dari sini jugalah timbul mitos mengambil “energi” dari bumi).

Inilah yin-yang dijelaskan mulai dari konsep awal, dilanjutkan ke konsep movement continuity, aplikasinya dalam gerakan nyata, sampai dua macam bentuk latihannya. Dimana kedalamannya, ya latihannya yang terus menerus itu.

Guru besar yang sebal dengan Anda tentu tidak mau berceloteh panjang lebar seperti ini. Simply dia akan mengatakan yin-yang adalah konsep universal, dimulai dari kosmos yang agung, di awal masa penciptaan, dan blah-blah yang lain, tetapi tidak akan pernah menjelaskan aplikasinya yang nyata dalam bentuk teknik dan latihan-nya.

Dari sinilah timbol mitos yin-yang yang semakin rumit, sehingga menjadi sebuah konsep yang hanya dimengerti oleh manusia-manusia setengah dewa. Dan menjadi tempat berlindung guru-guru yang hanya mau cari uang dan nama palsu.

Untuk mencegah Anda membuang-buang waktu sia-sia dengan guru besar seperti itu, lakukanlah sedikit tips dan trick berikut. Tentu jangan langsung ditodong karena bisa jadi dia akan betul-betul sebal dan kita akan rugi besar kalau dia memang praktisi yang memang tulen. Tetapi ajaklah minum teh, sanjung-sanjung sedikit, sampai dia merasa nyaman, kemudian selipkan pertanyaan-pertanyaan jebakan seperti : “apa sih itu galaksi?” (jawabnya adalah kumpulan dari bintang-bintang). “apa sih matahari?” (jawabnya adalah salah satu dari bintang-bintang). Kalau galaksi dan matahari saja dia tidak tahu, lupakan segala teorinya tentang alam semesta karena kita boleh yakin dia tidak mengerti itu sama sekali. Dan mulai besok cari guru baru.

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: