urutan latihan

(Copas)

1.Menghafalkan jurus/gerak
2. Mempelajari membaca gerak lawan/rasa/dan sejenisnya/dan sebangsanya
3. Menyesuaikan dengan gerak lawan
4. Belajar mengisi dan masuk dalam gerak lawan
5. Belajar isi atau rahasia dari setiap gerakan2x jurus
6. Belajar mengarahkan lawan kearah yang kita mau

Pada latihan tahap pertama kita melakukan jurus/teknik2x yang diulang2x agar menjadi bagian dari reflek. Pengulangan hingga mendarah daging-kan gerak adalah tujuan utama dari tahap ini.
Tapi sering kali orang berpikiran untuk memperkaya jurus dengan sebanyak2xnya menambah gerakan. Padahal gerak dasarnya sendiri masih belum dikuasai dengan benar.
Walaupun kelak setiap jurus pasti akan bermetamorfosa sesuai dengan kondisi dan sifat orangnya, tapi melakukan jurus dengan benar sesuai dengan “sudah waktu”-nya adalah penting agar tidak ada bagian detail yang tidak tertanam dalam diri kita.
Mengikuti petunjuk guru adalah penting agar setiap detail yang perlu kita pelajari tidak luput. Tentunya selalu ada bagian yang harus kita pecahkan sendiri (kelak).
Memperkaya jurus dengan mengkoleksi berbagai jurus tidak salah. Tapi untuk tahap tertentu justru itu akan merugikan diri sendiri karena pada akhirnya bisa jadi tidak ada teknik yang benar-benar dikuasai.
Melatih jurus tidak selalu harus di tempat latihan. Dirumah, sambil mandi, didalam angkot, sambil pacaran, bahkan sambil tiduranpun bisa. Sebab jurus bisa juga dilatih dengan pikiran kita juga.
Salah satu yang bisa dilakukan adalah seperti dalam istilah latihan saya yaitu “meraga sukma” alias men-raga-kan sukma kita untuk berlatih jurus.
Dari latihan tahap ini akan dihasilkan latihan yang mencangkup, fisik, pikiran, dan hati kita dan menyatukan semuanya dalam gerak.

2. Mempelajari membaca gerak lawan/rasa/dan sejenisnya/dan sebangsanya
untuk yang ini sudah ada tret sendiri yang ngebahasnya.
tapi satu point yang penting adalah sebelum memiliki dasar yang cukup di nomor 1, lebih baik sesedikit mungkin berlatih rasa (jenis latihannya). walaupun untuk aliran tertentu latihan bagian ini adalah penting, tapi biasanya sudah ada suatu struktur agar latihan menjadi lebih efisien sesuai dengan kemampuan masing2x menyerap keilmuan di alirannya.
pada saat mulai menguasai tahap ini biasanya “bentuk” gerakan akan menjadi rusak. sadar tidak sadar anda akan melihat bahwa gerakan anda tidak lagi mengikuti bentuk2x dasar yang sebetulnya sudah akan berubah pada saat tahap 1 sudah semakin advance.
rusak disini bukan berarti tak berguna. tapi rusak karena anda akan lebih banyak menemukan mana yang perlu dan mana yang tidak, mana yang sesuai dengan diri anda dan mana yang tidak. pada titik ini anda akan mulai merasa bahwa, “cara seperti ini lebih efisien” dibanding teman atau bahkan guru anda. sehingga bentuk-bentuk baku semakin hilang.
satu hal yang penting pada tahap ini adalah, kalau sebelumnya kita berlatih lebih banyak untuk diri sendiri, tapi pada saat ini kita akan berlatih lebih banyak untuk “melihat” lawan kita. bagaimana dia bergerak, menyesuaikan gerakan, dan lain sebagainya, sesuai gaya aliran masing2x.
kira2x dalam bahasa kasarnya disini bagian pencapaian “tak berbentuk – berbentuk – tak berbentuk”.
saran saya yang terpenting pada tahap ini adalah “bertahanlah”, karena disinilah saatnya latihan yang menjemukan dimulai.

salah satu tahap yang penting adalah melatih jarak atau kata orang jepun ma’ai.
Jarak disini harus dilihat dari ke-2 sudut pandang, yaitu sudut pandang kita dan sudut pandang lawan.
Kemudian Jarak ini juga dilihat dari jarak berdiri, jarak serangan.
Gampangnya mari kita lihat pertanyaan berikut :
1. kalau lawan memukul dengan tidak menggerakan kaki, berapa jarak yang perlu diambil agar pukulan lawan “menyentuh” kulit hidung kita ?
2. kalau lawan memukul dengan jarak maksimal, dengan memajukan kaki, berapa jarak yang perlu diambil agar pukulan lawan “menyentuh” kulit hidung kita ?
3. kalau lawan melangkah untuk memukul, seberapa jauh langkah yang mungkin diambil ? seberapa jauh yang paling maksimal bisa diambil ?
melakukan analisa cepat diikuti reflek gerakan yang sesuai adalah penting.
seperti pemain dansa yang berdansa bersama dan bisa saling mengisi gerakan, saat mereka menari, saat itulah tahap ke -3 dimulai.

3. Menyesuaikan dengan gerak lawan

Penyesuaian dengan gerak lawan ini agak susah di jabarkan.
Disini kita belajar bergerak selaras dengan dengan lawan, dan dapat mengisi gerakan sesuai dengan kebutuhan dan semua sudah berdasarkan reflek.
Walaupun keliatannya mudah, tapi sesungguhnya bagian ini cukup sulit. Pengibaratannya adalah seperti pedansa, dimana salah satu memimpin yang lain dan dalam kasus latihan kita, lawan kitalah pemimpinnya, dia yang menentukan gerakan dan kita mengikutinya menjadi satu irama. Bagaikan ngak ada putusnya.

4. Belajar mengisi dan masuk dalam gerak lawan

Dalam bahasa sunda, kumaitu adalah singkatan “Kumaha Itu” alias “bagaimana yang disitu”.
Tahap ini, tentunya sudah menjadi bagian latihan yang sulit diterjemahkan.
Banyak hal yang ada di tahap ini adalah pencerahan pribadi atas hasil latihannya selama ini.
Walaupun ada bagian tertentu yang tetap dilatihkan tapi biasanya hanya diajarkan pada orang tertentu saja.
Tapi intinya adalah latihan rasa yang kuat sesuai dengan gaya alirannya, kemampuan membaca gerakan lawan dan menentukan arah gerakan secara reflek.
Ada satu hal yang ditemui adalah istilah lain yang disebut dengan “Rek Ngeus” alias “Mulai Selesai”, dia baru mulai, saya selesai.
Nah, kalau diibaratkan mungkin seperti,
– kita baru mulai naksir, eh doi udah jadian ama cowok lain. hihihihi
– kita melangkah dan yakin dengan langkah kita, ternyata lantainya bolong
– kita loncat ke dahan kayak monyet, yakin dengan pegangan kita, ternyata rantingnya udah di gergaji orang

Bisa juga agak beda urutannya…
1. Belajar dalam (isi-rasa) dan segala hukumnya.
2. Belajar menggerakkan isi-rasa dengan cara tertentu.
3. Belajar menggunakan isi-rasa.
4. Belajar senjata dengan isi-rasa juga.

Kalau di tempat lain dimulai dengan berlatih jalan dulu, baik jalan yang lurus ke depan maupun jalan yang menyamping. Pantas jaman dulu (jaman senior), guru kalau melatih jalan tangannya diikat ke badan, rupanya tujuannya biar dapat struktur badan yang diinginkan dan mengenal keseimbangan / center.
Jadi tahapannya sebagai berikut;
1. Belajar jalan
2. Belajar napas dan tenaga
3. Belajar Jurus
4. dst kayaknya sama ama yang lain

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: