masih ttg rasa

(Copas lagi)

seorang praktisi mempelajari sebuah pukulan

pada tahun2 pertama:
si praktisi mempelajari pukulan tersebut dengan full power sekali.. semua otot tangan dipukulkan dengan sangat kuat sehingga kalo kena tuh pukulan bisa berakibat sakit sekali

pada tahun2 selanjutnya:
si praktisi dengan jurus yang sama namun kali ini pukulannya nggak full power.. namun tetap kuat dan kalau kena hantemannya efeknya bisa sakit sekali sama seperti kasus ke 1.. bedanya tenaga yg digunakan lebih hemat

pada tahun2 setelah latihan panjang:
pukulan si praktisi sangat alus.. malah bisa dibilang kliatan ga bertenaga.. namun.. pada akhir pukulan tenaga semua diledakan dengan skala halus sekali. sehingga orang yg matanya awam beladiri bahkan yg bisapun nggak menyadari adanya ledakan pukulan pada akhir gerakan.. efeknya bahkan bisa melebihi tahun2 sebelumnya dengan tenaga lebih hemat…bahkan minim tenaga

pada tahap2 selanjutnya:
si praktisi cukup diam.. nggak bergeming namun bisa mengaplikasikan jurus itu dengan hanya diam.. orang yg diserangnya terkena efek pukulan secara nggak lansung…

dan sipraktisipun bisa menyerang mental lawan dengan prinsip pukulan tersebut.. atau bahkan bisa mengaplikasikan prinsip pukulan itumelalui jari, telapak tangan, lidah, ujung kaki, atau melalui media seperti kain…

sedikit drama dari kehidupan beladiri SMA sepupu saya,
hal diatas adalah studi kasus yg saya tulis untuk para “maniak petarung tanpa menyentuh” kenalan sepupu saya (ada ekskulnya disekolahnya dan mereka menganggap it’s most powerfull technic) yang PD sekali cuma tahan nafas diperut lalu semua orang bisa mental….

Mungkin (mungkin lho) ini juga yg namanya hasil pengolahan RASA. Saya juga sedang mempelajari silat sunda, disini dikenal dengan yang namanya kosong – isi. Dimana tenaga diledakan pada titik kontak point dengan area tubuh lawan. Tenaga kosong isi ini sangatlah efektif, karena tubuh si praktisi bisa lebih rileks. Juga dengan rileks, maka refleks juga lebih cepat.
Setahu saya, seorang pesilat yang sudah sangat terlatih RASA kosong isinya dapat mencederai lawan hanya dengan kelingking walaupun beradu dengan anggota badan yang kuat sekalipun (bukan hanya titik lemah seperti mata, kemaluan, dll).

apakah orang cuma belajar RASA tanpa jurus maka bisa mengalahkan yang mati2an belajar silat?
jawabannya sudah dijawab oleh kisah pendiri silat TIMBANGAN, yg ga pernah belajar beladiri, hanya belajar filsafat, agama, dan politik serta pelajaran2 tertulis lainnya…
pendiri timbangan yg menciptakan konsep TIMBANGAN itu bisa imbang dengan pendekar2 sakti yang sudah mumpuni silatnya…
nah pertanyaan yang cukup menyentil….

jadi buat apa ada jurus kalo kita cukup belajar RASA doank untuk bisa beladiri?
jurus silat yang kita latih, apabila diberi RASA maka efeknya akan lebih dahsyat…
ibaratnya RASA adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan senjata
sedangkan silat/ beladiri adalah sebuah senjata….
dimana keduanya saling mendukung….

Memang namanya juga udah RASA, bisa di Rasa tapi agak susah diungkapkan, walaupun bisa diungkapkan dengan kata2 mungkin akan berbeda-beda walaupun mungkin mahluk yang di ceritakan sama.
Setahu saya RASA tidak bisa jauh dari Fokus dan gerak seiring/ harmony. sebenarnya menggerakan badan / anggota badan kemana seharusnya bergerak atau mengembalikan gerakan kepada fitrahnya kemana harus bergerak, sehingga dalam setiap pergerakan tidak ada pertentangan power/ tenaga antara anggota badan yang satu dengan yang lain.

apakah bisa di latih sendiri/ tidak berpasangan ? Kemungkinan bisa.
caranya dengan menentukan titik fokus sebagai tempat memusatkan titik RASA.
misalnya akan menggerakan tangan ke depan, maka titik fokus pada ujung jari dengan merasakan ada titik rasa di tiap ujung jari seterusnya bisa di gerakan tentu harus dengan iringan badan yang seiring. kalau mau ke sikut ya konsepnya sama. tapi dengan catatan tentu harus di bimbing oleh orang yang sudah mengenal betul tentang rasa. karena orang yang sudah mengenal dan berlatih tentang Rasa / titik Rasa, dia bisa merasakan pergerakan, fokus dan titik rasa yang berlatih sudah betul atau salah.
dalam melatih rasa, gerakan boleh sama tapi belum tentu sama / benar.

to got the feels somebody must have a sensitivity!
untuk bisa mendapatkan rasa seseorang harus punya kepekaan!
ketika sakit flu, kepekaan hilang karena ada satu kelenjar yang menghasilkan sesuatu pada lidah, sehingga sulit untuk merasakan rasa, apakah itu manis asin atau pahit.
feels is object, sensitivity is tools.
rasa itu obyek, kepekaan adalah alat.
feels and sensitivity is different things!
rasa dan kepekaan adalah sesuatu yang berbeda!

Praktisi yang merancang gerakannya ketika berhadapan dengan lawan biasanya masih tingkat rendah atau belum banyak pengalamannya. Mengantisipasi serangan lawan biasanya memiliki tingkat kegagalan yang tinggi, misalnya, pas mau nendang dengankaki kiri (melanjutkan contohnya mas hebi) tau2 lawan sudah nendang duluan, pasti segala rancangan antisipasinya jadi berantakan. Rasa muncul dari kesadaran, menjadi pengetahuan dan gerakan, tapi tidak dirancang terlebih dahulu.

Rasa yang dibahas disini sebenarnya adalah pengolahan kesadaran. Kesadaran yang diam dan kesadaran yang bergerak. Kalau dalam bahasa Mandarinnya menjadi Xin () dan Yi (), dan yang mengerahkan disebut sebagai Shen (). Dalam prakteknya, Xin dan Yi tidak bisa dipisahkan. Silakan dikomentari dulu, senior-senior sekalian, nanti saya lanjutkan lagi.

bukan rasa bergerak mendahului kejadian …. tapi rasa yg bisa membaca pergerakan org tersebut …. bisa itu membacanya dari hati atau titik mula pergerakan tubuh

“Tepung Rasa Pada Rasa”
Jadi ada apa dibalik Rasa? Apa yang menggerakan Rasa?

Rasa yang bergerak mendahului aksi orang lain, alias reaksi mendahului aksi sering disebut sanalika.

Yang menggerakkan rasa adalah “Aku”. “Aku” adalah “Sadar”. “Sadar” adalah “Hidup”. “Hidup” bukan milikku. Milikku bukan “Aku”.

Lebih tepatnya ketiadaan “Ego”. Pada saat ego hilang, rasa yang sesungguhnya muncul. Ego bukanlah sejatinya “aku”. Dari ego timbul antisipasi, ketakutan, kemarahan dll yang mengaburkan “rasa”. Dalam Taijiquan, kami mengenal satu kalimat: “Shen Yi Nei Lian” (神以内煉) yang berarti “Spirit ditempa didalam”. Spirit disini mengarah ke “aku” tanpa ego. Dari sini terbentuklah center yang stabil, dan sesudah itu baru memungkinkan untuk melatih rasa yang mengetahui dan rasa yang bergerak. Inilah cara latihan rasa dalam Taijiquan.

Brarti dlm rasa yg ada adalah kepasrahan? yg menggerakkan bukan aku, tapi yg memberi hidup?

itulah mushin. no mind. ketika aku hilang. siapa/apa yang tersisa ?

Apabila kita mengatakan bahwa xin itu pasif sedangkan yi itu aktif, sebenarnya juga kurang tepat karena yi yang sesungguhnya juga harus seperti tidak ada yi (“you yi zhi wu yi, wu yi shi zhen yi” yang berarti “apabila ada Yi maka sebenarnya tidak ada Yi, tidak ada Yi itulah Yi yang sesungguhnya”) dan xin pun tidak pasif begitu aja (diketahui dari kalimat “yi xin xing Qi” yang berarti “menggunakan xin untuk menggerakkan Qi”).

Dalam gerakan, apabila kebanyakan orang memiliki refleks yang kadang-kadang tidak terkontrol, maka apabila kita melatih rasa maka segala gerakan menjadi gerakan yang disadari alias tidak menjadi refleks yang bisa tidak terkontrol.

Contoh, dari kejadian yang terjadi bertahun-tahun yang lalu…
Ada seorang praktisi Tieshazhang (tapak pasir besi), beliau memiliki seorang putri yang masih kecil. Pada suatu hari putrinya memanjat pohon, dan terjatuh dari pohon. Kebetulan beliau juga berada di bawah pohon tersebut. Karena panik, beliau secara refleks menjulurkan tangannya untuk menyambut anaknya yang jatuh dari pohon. Begitu anaknya sampai ke tangan beliau, anaknya langsung tewas. Mungkin kalau anaknya terjatuh ke tanah, yang terjadi cuma patah tulang. Tapi karena dalam keadaan panik, tenaga beliau tersalurkan ke tangan dan putri beliau terpukul oleh beliau sendiri sehingga langsung tewas. Saking sedih dan menyesalnya, beliau akhirnya memotong tangan sendiri.
Apabila beliau melatih rasa, hal ini tidak akan terjadi.
Orang yang melatih rasa lebih bisa mengontrol diri.

Om batik, apakah maksudnya kembali ke ‘aku’ yang murni tanpa ego ke’aku’an? Ceritanya back to innocence. Jadi ‘aku’ yang mengolah rasa itu ‘aku’ yang murni, nol, ‘aware’ tanpa ‘prejudice’. Kalau dikait2kan mungkin sama seperti prinsip silat sunda juga yang kembali ke kosong tapi tetap center dan berisi. Sehingga rasa yang diolah juga adalah ‘rasa’ murni yang tidak termanipulasi.

Bisa dikatakan seperti Wu Xin (atau Mushin dalam Japanesenya), atau lebih tepatnya disebut Wu Wo (no “I”) dan Xin Jing (quiet mind). Dan bisa disingkat menjadi satu huruf saja, yaitu Wu (atau Mu dalam Japanesenya) yang berarti “tidak ada”.

Rasa berangkat dari kosong, tapi fokus, sehingga apabila ada reaksi yang bergerak/mendorong dari luar, maka akan ada energy dari dunia antah berantah yang meresponse hanya pada satu titik itu saja, dan sesuai reaksi/energy luar yang mendorong atau bergerak tersebut.
energy antah berantah itu dari mana? dalam tubuh kita susah ada , tinggal di olah.
dalam keadaan berdiri silakan gantungkan lengan anda dengan ujung jari menghadap ke bawah, kondisi badan dan tangan relax. maka di ujung jari akan dapat di rasakan seperti ada butiran-butiran air yang menggantung. Setahu saya , itu lah Rasa, dan bisa di olah bergerak kemanapun sesuai yang kita inginkan, selama kita dalam keadaan relax tapi fokus.

siapakah kamu ?
si A ? itu kan nama yg diberikan oleh orang tua mu.
seseorang yg kuliah di perguruan tinggi X,kerja di Y, bla-bla. bukan itu. itu pendidikanmu, sekolahmu, dunia mu.
apakah kamu itu badan yang kamu lihat di cermin ? bukan kamu, itu badan kamu.
kamu itu apa, yang mana ?

sebenarnya aliran Rasanya itu bergerak kemana sesuai fitrahnya harus bergerak, tapi harus di latih badan harus relax. Misalkan pada saat kita menggerakan tangan ke depan maka titik rasa itu ada di ujung tangan tapi syaratnya fokus, dan anggota tubuh lain relax termasuk lengan.
Analoginya kayak gini, pada saat kita mundurin sepeda motor, tulang kering kita kena foot step motor tersebut, walaupun pergerakannya pelan tapi tentu sakitnya akan lebih di bandingkan dengan footstep tersebut di copot lalu di getokan ke tulang kering kita ( dengan pergerakan yang sama ). itu terjadi di karenakan semua anggota badan motor tersebut dalam keadaan relax, tidak ada satua bagian pun yang menentang pada saat motor itu di mundurkan, semua seiring dengan harmony gerak antara satu bagian dengan bagian yang lain. selain itu ada fokus power pada footstep tersebut sehingga seolah-olah semua bobot motor tersebut ada pada footstep motor tersebut.

Jika kau berpikir menerima Pedang itu begitu saja, berarti pikiranmu akan berhenti di posisi pedang itu, gerakanmu menjadi tak selesai dan kaupun di roboh kan oleh lawan.
Walaupun kau melihat pedang yang bergerak menyerangmu, jika pikiranmu tidak tertahan olehnya dan kau bisa mengikut ritme gerakanya, jika kau tidak berpikir untuk menyerang lawan dan tidak ada pikiran atau penilaian yang tertinggal, jika segera setelah kau melihat ayunan pedang, pikiranmu tidak tertahan sedikit pun dan kau langsung bergerak maju serta merebut pedang dari lawan, pedang yang seharus nya membunuhmu akan menjadi pedangmu sendiri dan sebalik nya akan menjadi pedang yang akan menebas lawan.

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: