ini jg ttg rasa

(Copas)

SUCI ITU BUKAN BENTUK
Bukan KITAB SUCI, bukan suara suci, bukan wewarah suci, bukan tuntunan suci, bukan lambang suci atau apa saja yang dikumandangkan suci.
Maka bagi siapa saja yang usaha mencari suci berpangkal pada bunyi-bunyian suci, kitab suci, petunjuk suci atau lambang suci sebenarnya keliru, bahkan bisa salah jalan/kesasar.
Karena SUCI tidak ada hubunganya dengan bentuk, bentuk tidak ada hubunganya dengan suara, bentuk bukan suara, Tiap bentuk punya laku/jalan dan tempat sendiri, punya tempat masing masing.
Umpamanya, mau mencari putih jika diawali dengan bentuk. Mana sih yang dinamakan putih ? Apa sih putih itu ? kapur itu warnanya putih, Mega yang menggantung di atas juga putih, riak air dipantai juga putih, bulu burung kuntul juga putih. Semakin dikejar semakin membingungkan .
Sampai jambul beruban mencari SUCI tidak akan ditemukan jika hanya mencari dari luar saja. Sebab yang ada diluar sudah menjadi gelar yang tergelar ada. Apa yang tergelar ada itu adalah gelarnya angan angan., Siapa saja yang hanya mengikuti angan angan akan kesasar, sebab angan angan itu selalu berubah dan tidak nyata (owah gingsir)
Jika demikian, SUCI itu bukan angan-angan, tidak pernah berubah, Jadi SUCI itu nyata, SUCI itu langgeng (abadi), Langgeng (abadi) itulah HIDUP, KUWASANYA GERAK, LUNGGUH pada RASA yang dirasakan sekujur badan.
Keberadaan SUCI tidak bisa dibicarakan, tidak bisa dtularkan, tak bisa diajarkan, tak bisa digambarkan, Siapa yang bisa ngomongin RASA, siapa yang bisa menggambarkan RASA. Orang sejagad pun raya tak ada bisa. Kecuali rasa itu sendiri yang bisa merasakan RASA.
Hanya dengan bekal pengertian atau pengakuan saja, siapa yang menganggap setelah membaca, mendengar, merasakan tulisan ini, dan kemudian mengatakan sudah ketemu RASA / SUCI, maka dia sudah keliru dan sangat keliru. Sebab tulisan, pendengaran, suara, wewarah, lambang, petunjuk, semuanya bukan HIDUP, bukan RASA, bukan SUCI
Bunyi, petuah, petunjuk, tulisan, lambang, pendengaran – kesemuanya Cuma bisa menggerakan persaaan, yaitu perubahan pengertian di angan-angan dan perjalan budi pekerti. Sebaliknya RASA itu harus dirasakan benar. Sebab HDUP itu kuwasanya GERAK, yang lungguh di RASA.
Jadi bagaimana bisa merasakanya ?, Ya harus dilungguhi benar. Bagaimana bisa lungguh dan dilungguhi ? Ya harus ketemu dan dilungguhi HIDUP. Lalu bagaimana bisa ketemu sang HIDUP ?
Ya tidak mungkin manusia mencari HIDUP, kalau bukan HIDUP itu sendiri yang MENGHENDAKI. Sebab HIDUP itu sangat dekat tetapi tidak bersenggolan, ADA tapi TAK ADA. Bersinggasana ditengah inti nya (telenging) RASA. karena tempatnya RASA saja sulit ditemukan, maka kesemuanya berhenti menjadi suatu ajaran, petunjuk suci, yang menjadi idaman suci para leluhur kita.
Tapi sangat tidak mungkin jika ada suatu ucapan yang tidak bisa diucapkan kenyataanya. Ada BUNYI harus ada BENTUK (meski bukan wujud). Ada bayangan (maya), pasti ada sejatinya. Karena ucapan atau BUNYI WEJANGAN itu ada datangnya dari tergelarnya RASA yang dirasakan. Sebab yang berucap, yang membunyikan adalah manusia hidup (bisa merasa) yang sudah bisa bicara. Maka ucapan dan bunyi berasal dari hidup, disebut rasanya hidup, sebab HIDUP lungguh pada rasa.

sebenarnya hanya dengan ikhlas ( 165 ) akan mendapatkan ketenangan … dan ketenangan akan mendapat jawaban dari yg agan cari …. yaitu RASA

intinya RASA itu gak pernah bohong, yang bohong itu perasaan atau angan2. Tempatnya RASA itu lungguh dengan HIDUP bukan aku. Jadi akalu mau tahu RASA yang benar2 adalah dengan melepas aku dan “mendengarkan” yang ada di dalam aku.

Manunggaling Kawula Gusti terjadi ketika kita tidak lagi merasakan batasan antara diri kita dengan alam dan pencipta. Kasarnya seperti bilang “Sang Gusti menyatu dan ada dalam diri saya”. Seperti kepasrahan, kerelaan dan keyakinan yang sudah jadi 1.
Dalam konsep lain disebut seperti “Tumbal yang ditolak oleh bumi”.
Dimana pada saat kita telah berserah diri untuk menjadi tumbal atas keyakinan kita sudah tidak ada lagi kekuatiran apapun. Kenapa ditolak bumi ? Karena saat itu pijakan manusia yang umum yaitu tanah sudah tidak di pijak lagi. Yang dipijak adalah apa yang ada dalam diri sendiri.
Dalam konsep yang lain lagi ada yang menyebutkan seperti “Meraga Sukma” yaitu pada waktu sukma kita yang tidak punya pikiran apapun menjadi raga kita, yang mengerakkan, yang menentukan berbagai hal, sementara sang raga yang penuh pikiran di tanam jauh di dalam.

sederhana = simplicity
cobalah memahami simpli-kithi (tak baca dg aksen jawa), jaman dulu sering banget ada guyonan simpli-kithi ini di lingkungan saya yang ditujukan pada orang2 punya kebiasaan dalam kesederhanaan.
kadang dalam belajar MA yang tujuannya mengoptimalkan basic insting dg cara yang sederhana, jadi kabur ga jelas karena belajarnya kemuluken untuk mencapai hal2 yang idealistik, di atas ditulis RASA itu hal yang jujur, yang ga bisa boong, nah yang biasanya kemuluken itu “aku”-nya.

ketika bayi hanya tangis
mengecap hari kugenggam jemari
terasa bulan senyum berkembang
menuju langkah kaki pertamaku
hingga kubisa menari dalam putaran
dan kini duduk menunggu dan merenung
cara apa aku kan kembali

dalam konsep kosong dan isi peran “arko” sangat besar, yaitu gerakan2 melingkar yang dinamis yang akan mengalihkan tenaga untuk diikuti dalam artian “ride the force” (la sequida), tapi adakalanyah dibutuhkan satu trobosan secara liniare dg melawan arus dalam artian “against the force” (la contra), dari kosong ke isi atau sebaliknyah…

Semua adalah seimbang, ada kalanya linier harus dikalahkan oleh circular, tapi dalam kondisi tertentu circular akan dikalahkan oleh linier, semua tergantung pada situasi…

Beladiri itu sebenarnya dipakai untuk mengalahkan diri sendiri bukan orang lain. Kalau hanya masalah sepele aja langsung mau berantem, lebih baik jangan belajar beladiri. Ada pepatah, Pedang yang tajam kalo ga disanding dengan gagang pedang dan sarung pedang yang bagus, itu bukan aja bisa menyakiti orang lain, tapi yang terpenting bisa menyakiti diri sendiri. Lagipula, kamu ambil kuda2 aja, itu sudah bisa dikatakan 90 % kamu sebenarnya belum siap untuk bertarung, tapi karena emosi, akhirnya akal sehatmu dikesampingkan dan membuat anda untuk berkelahi.
Bertarung di jalan tidak seperti kamu kumite di tempat latihan. Tidak ada saling hormat, pasang kuda2, stressor juga berbeda, dll. kalo mau berantem di jalan jangan ragu2, kalo ragu mendingan jangan. dan bertarunglah dengan hati damai dan tenang, berpikirlah kalo kamu berantem bkn untuk mencelakainya tapi justru untuk menghindari hal yang lebih fatal pada diri dia dan kamu juga tentunya (Bingungkan?)
Terus terang, saya dulu sering mengalami hal seperti anda, awalnya juga emosian tetapi lama2 ga saya ladeni malah saya kadang2 senyumin dan malah pernah juga ngomong secara baik2 dan akhirnya mereka juga diam dan tdk berbuat apa2, karena semakin lama belajar beladiri, kita sadar bahwa sebenarnya belajar beladiri bukan terpenting melindungi diri sendiri, tapi lebih melindungi orang lain terutama orang2 yang kita cintai. Mungkin juga cara menegur kita yang salah karena kita dalam posisi demikian pasti emosi.
Belajarlah beladiri semakin giat bukan untuk berantem dgn orang lain agar bisa membela diri, tetapi untuk mengembangkan diri kita baik jasmani maupun rohani kearah yang baik dan positif serta untuk melindungi orang2 disekitar kita, terutama yang kita cintai.

 

Perihal sekedarblog
Aku hanya aku adanya; Aku bukan yang nampak aku; Aku seperti silih bergantinya hitam putih; Artikupun samar kumengerti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: